<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>KHUDZ AQIDATAKA</title>
	<atom:link href="http://adikamianoki.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://adikamianoki.wordpress.com</link>
	<description>Perkokoh Aqidahmu</description>
	<lastBuildDate>Fri, 15 Jan 2010 14:44:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='adikamianoki.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>KHUDZ AQIDATAKA</title>
		<link>http://adikamianoki.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://adikamianoki.wordpress.com/osd.xml" title="KHUDZ AQIDATAKA" />
	<atom:link rel='hub' href='http://adikamianoki.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Iman Kepada Allah</title>
		<link>http://adikamianoki.wordpress.com/2010/01/15/iman-kepada-allah/</link>
		<comments>http://adikamianoki.wordpress.com/2010/01/15/iman-kepada-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 14:44:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adikamianoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[aqidah muslim sejati]]></category>
		<category><![CDATA[rukun iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikamianoki.wordpress.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[MEMPERKOKOH KEIMANAN KEPADA ALLAH Iman kepada Allah merupakan rukun iman yang pertama. Rukun ini sangat penting kedudukannya dalam Islam. Sehingga wajib bagi kita untuk mengilmuinya dengan benar supaya membuahkan akidah yang benar pula tentang Allah Ta’ala. Dengan memohon pertolongan Allah kami mencoba mengulas permasalah pokok tentang rukun iman yang pertama ini. Semoga ulasan berikut dapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adikamianoki.wordpress.com&amp;blog=10042936&amp;post=89&amp;subd=adikamianoki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>MEMPERKOKOH KEIMANAN KEPADA ALLAH</strong></p>
<p>Iman kepada Allah merupakan rukun iman yang pertama. Rukun ini sangat penting kedudukannya dalam Islam. Sehingga wajib bagi kita untuk mengilmuinya dengan benar supaya membuahkan akidah yang benar pula tentang Allah <em>Ta’ala</em>. Dengan memohon pertolongan Allah kami mencoba mengulas permasalah pokok tentang rukun iman yang pertama ini. Semoga ulasan berikut dapat memperkokoh iman kita kepada Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>.</p>
<p><strong>Makna Iman Kepada Allah</strong></p>
<p>Iman kepada Allah merupakan asas dan pokok dari keimanan, yakni keyakinan yang pasti bahwa Allah adalah Rabb dan pemilik segala seuatu, Dialah satu-satunya pencipta, pengatur segala sesuatu, dan Dialah satu-satunya yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Semua sesembahan selain Dia adalah sesembahan yang batil, dan beribadah kepada selain-Nya adalah kebatilan. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman :</p>
<p style="text-align:right;"><strong>ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَايَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ {62}</strong></p>
<p>“<em>(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.</em>” (Al Hajj:62)</p>
<p>Dialah Allah yang disifati dengan sifat yang sempurna dan  mulia, tersucikan dari segala kekurangan dan  cacat. Ini merupakan perwujudan tauhid yang tiga, yatu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhdi asma’ wa shifat. Keimanan kepada Allah mengandung tiga macam tauhid ini, karena makna iman kepada Allah adalah keyakinan yang pasti tentang keesaan Allah <em>Ta’ala</em> dalam rububiyah, uluhiyah, dan seluruh nama dan sifat-Nya. (<em>Al Irysaad ilaa shahiihil I’tiqaad</em>, Syaikh Sholeh Fauzan).</p>
<p><strong>Cakupan Iman  Kepada Allah</strong></p>
<p>Iman kepada Allah mencakup empat perkara :</p>
<ol>
<li>Iman tentang keberadaan (wujud) Allah.</li>
<li>Iman tentang keesaan Allah dalam rubuiyah</li>
<li>Iman tentang keesaan Allah dalam uluhiyah</li>
<li>Iman terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya.</li>
</ol>
<p>Keimanan yang benar harus mencakup empat hal di atas. Barangsiapa yang tidak beriman kepada salah satu saja maka dia bukan seorang mukmin. (<em>Syarhu al ‘Aqidah al Washitiyah</em>, Syaikh ‘Utsaimin)</p>
<p><strong>Dalil Tentang Keberadaan Allah</strong></p>
<p>Keberadaan Allah adalah sesuatu yang sudah sangat jelas. Hal ini dapat ditunjukkan dengan dalil akal, <em>hissi</em> (inderawi), fitrah, dan dalil syariat.</p>
<p>Dalil akal menunjukkan adanya Allah, karena seluruh makhluk yang ada alam ini, baik yang sudah ada maupun yang akan datang, sudah tentu ada penciptanya. Tidak mungkin makhluk itu mengadakan dirinya sendiri atau ada begitu saja dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakannya.</p>
<p>Adapaun petunjuk fitrah juga menyatakan keberadaan Allah. Seluruh makhluk telah diciptakan untuk beriman kepada penciptanya tanpa harus diajari sebelumnya. Tidak ada makhluk yang berpaling dari fitrah ini kecuali hatinya termasuki oleh sesuatu yang dapat memalingkannya dari fitrah itu. Hal ini  berdasarkan sabda Nabi : “<em>Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, lalu orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani, dan majusi</em>” (Muttafaqun ‘alaihi).</p>
<p>Indera yang kita miliki juga bisa menunjukkan tentang keberadaan Allah. Kita semua bisa menyaksikan dikabulkannya permohonan orang-orang yang berdoa dan ditolongnya orang-orang yang kesusahan. Ini menunjukkan secara <em>qath’i</em> akan adanya Allah. Demikian pula ayat-ayat (tanda-tanda) para nabi yang dinamakan mukjizat yang disaksikan oleh manusia atau yang mereka dengar merupakan bukti yang nyata akan adanya Dzat yang mengutus mereka, yaitu Allah <em>Ta’ala</em>. Sebab, kemukjizatan-kemukjizatan itu diluar jangkauan manusia pada umumnya, yang memang sengaja diberlakukan oleh Allah Ta’ala untuk mengokohkan dan memenangkan para rasul-Nya.</p>
<p>Sedangkan dari segi syariat juga menyatakan keberadaan Allah. Sebab kitab-ktab samawi seluruhnya menyatakan demikian. Apa saja yang dibawa oleh kitab-kitab samawi, berupa hukum-hukum yang menjamin kemaslahatan makhluk merupakan bukti bahwa hal itu datang dari Rabb yang Maha Bijaksana dan Maha Tahu akan kemaslahatan makhluk-Nya. Berita-berita yang berkenaan dengan alam yang terdapat dalam kitab-kitab tersebut merupakan bukti bahwa kitab-kitab itu berasal dari Rabb yang Maha Kuasa untuk mencipta apa yang diberitakan itu. (Simak pembahasan lengkap masalah ini pada kitab <em>Syarhu al ‘Aqidah al Wasithiyah</em> dan Kitab <em>Syarhu Ushuulil Iman</em>, Syaikh ‘Utsaimin).</p>
<p><strong>Iman terhadap Rububiyah Allah Ta’ala.</strong></p>
<p>Maksudnya adalah beriman bahwa  Allah adalah satu-satunya <em>Rabb</em> yang tidak mempunyai sekutu. <em>Rabb</em> adalah Dzat ayang berwenang mencipta, memiliki, dan memerintah. Tiada yang dapat mencipta selian Allah, tiada yang memiliki kecuali Allah, serta tiada yang berhak memerintahkan kecuali Allah. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman :</p>
<p style="text-align:right;"><strong>إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَلَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ {54}</strong></p>
<p>“<em>Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas &#8216;Arsy . Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.</em>” (Al A’rof:54).</p>
<p>Tidak ada satupun dari makhluk ini yang mengingkari rububiyah Allah <em>Ta’ala</em>, kecuali  karena sombong. Namun sebenarnya ia tidak meyakini apa yang diucapkannya. Sebagaimana terdapat pada diri Fir’aun kepada kaumnya :</p>
<p style="text-align:right;">فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ اْلأَعْلَى {24}</p>
<p>“(Seraya) berkata:&#8221;Akulah tuhanmu yang paling tinggi&#8221;.” (An Nazi’at:24)</p>
<p style="text-align:right;"><strong>وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَآأَيُّهَا الْمَلأُ مَاعَلِمْتُ لَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَاهَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَل لِّي صَرْحًا لَّعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ {38}</strong></p>
<p>“<em>Dan berkata Fir&#8217;aun: &#8220;Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta&#8221;.</em>” (Al Qashash:38)</p>
<p>Namun sebenarnya yang dia katakan itu bukan berasal dari keyakinan. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align:right;">وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَآ أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ {14}</p>
<p>“<em>Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.</em>” (An Naml:14).</p>
<p>Bahkan kaum musyrikin yang diperangi oleh Rasulullah juga mengakui rububiyah Allah, namun mereka menyekutukan-Nya dalam uluhiyah. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align:right;">وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ {87}</p>
<p>“<em>Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: &#8220;Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: &#8220;Allah&#8221;, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?</em>” (Az Zukhruf:87). (<em>Syarhu Ushuulil Iman,</em> Syaikh ‘Utsaimin)</p>
<p>Dengan demikian beriman dengan rubiyah saja tidak cukup. Buktinya kaum musyrikin tetap diperangi oleh Rasulullah, sedangkan mereka mengakui tentang rububiyah Allah.</p>
<p><strong>Iman Kepada Uluhiyah</strong></p>
<p>Kita wajib beriman terhadap tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Disebut tauhid uluhiyah karena penisbatannya kepada Allah dan disebut tauhid ibadah karena penisbatannya kepada makhluk. Adapun maksudnya ialah pengesaan Allah dalam ibadah. Hanya Allah satu-satunya yang berhak diibadahi. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman :</p>
<p style="text-align:right;">ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَايَدْعُونَ مِن دُونِهِ الْبَاطِلُ {30}</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>” Demikianlah, karena sesungguhnya Alloh, Dialah yang hak dan sesungguhnya yang mereka seru selain Alloh, itulah yang batil” (Luqman :30). </em></p>
<p>Banyak manusia yang kufur dan ingkar dalam hal tauhid ini. Karena itulah Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab kepada mereka, sebagaimana Allah jelaskan :</p>
<p style="text-align:right;"><strong>وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّنُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ {25}</strong></p>
<p>” <em>Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: &#8220;Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku</em>&#8220;.” (Al Anbiya”:25) (<em>al Qoulul Mufiid bi Syarhi Kitaabit Tauhiid</em>, Syaikh ’Utsaimin)</p>
<p><strong>Antara  Rububiyah dan Uluhiyah</strong></p>
<p style="text-align:left;">Antara tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah mempunyai hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Tauhid rububiyah mengkonsekuensikan tauhid uluhiyah. Maksudnya pengakuan seseorang terhadap tauhid rububiiyah mengharuskan pengakuannya terhadap tauhid uluhiyah. Barangsiapa yang telah mengetahui bahwa Allah adalah Tuhannya yang menciptakannya dan mengatur segala urusannya, mengharuskan baginya beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukannya. Sedangkan tauhid uluhiyah terkandung di dalamnya tauhid rububiyah. Maksudnya, tauhid rububiyah termasuk bagian dari tauhid uluhiyah. Barangsiapa yang beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukannya, pasti meyakini bahwa Allahlah Tuhannya dan penciptanya. Hal ini sebgaimana perkataan Nabi Ibrohim ‘<em>alaihis salaam</em> :</p>
<p style="text-align:right;"><strong>قَالَ أَفَرَءَيْتُم مَّاكُنتُمْ تَعْبُدُونَ {75} أَنتُمْ وَءَابَآؤُكُمُ اْلأَقْدَمُونَ {76} فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِّي إِلاَّرَبَّ الْعَالَمِينَ {77} الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ {78} وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ {79} وَإِذَامَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ {80} وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ {81} وَالَّذِي أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ {82}</strong></p>
<p><em>“ Ibrohim berkata : “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah(75), kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?(76), karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam(77), (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku(78), dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku(79), dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkanku(80), dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali)(81), dan Yang amat aku inginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat(82).” </em>(Asy Syu’aroo’:75-82)</p>
<p>Tauhid rububyah dan uluhiyah  terkadang disebutkan bersamaan, maka ketika itu maknanya berbeda, karena pada asalnya ketika ada dua kalimat yang disebutkan secara bersamaan dengan kata sambung menunjukkan dua hal yang berbeda. Hal ini sebagaimana firman Allah :</p>
<p style="text-align:right;"><strong>قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ {1} مَلِكِ النَّاسِ {2} إِلَهِ النَّاسِ {3}</strong></p>
<p><em>“Katakanlah ;” Aku berlindung kepada Robb (yang memlihara dan menguasai) manusia(1). Raja manusia(2). Sesembahan manusia(3).” (An Naas :1-3).</em></p>
<p>Makna <em>Robb</em> dalam ayat ini adalah Raja yang mengatur manusia, sedangkan makna <em>Ilaah</em> adalah sesembahan satu-satunya yang berhak untuk disembah.</p>
<p>Terkadang tuhid uluhiyah atau rububiyah disebut sendiri tanpa bergandengan. Maka ketika disebutkan salah satunya mencakup makna keduanya. Hal ini sebagaimana ucapan malaikat maut kepada mayit di kubur : Siapa Rabbmu? Maka maknanya Siapakah penciptamu dan sesembahanmu? Hal ini juga sebagaimanan firman Alloh :</p>
<p style="text-align:right;"><strong>الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِم بِغَيْرِ حَقٍّ إِلآَّ أَن يَقُولُوا رَبُّنَا اللهُ {40}</strong></p>
<p><em>“(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata :”Tuhan kami hanyalah Alloh” (Al Hajj:40)</em></p>
<p><strong>قُلْ أَغَيْرَ اللهِ أَبْغِي رَبًّا {164}</strong></p>
<p><em>“Katakanlah:”Apakah aku akan mencari Tuhan selain Alloh” (Al An’am :164)</em></p>
<p style="text-align:right;"><strong>إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا {30}</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya ornag-orang yang mengaatkan “Tuhan kami ialah Alloh” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka” (Fushshilat :30).</em></p>
<p>Penyebutan rububiyah dalam ayat-ayat di atas mengandung makna uluhiyah (<em>Al irsyaad ilaa shohiihili i’tiqood,</em>Syaikh Sholeh Fauzan)</p>
<p><strong>Iman kepada Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah</strong></p>
<p>Termasuk pokok keimanan kepada Allah adalah iman terhadap tauhid asma’ wa shifat. Maksudnya adalah  pengesaan Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> dengan asma’ dan shifat yang menjadi milik-Nya. Tauhid ini mencakup dua hal yaitu penetapan dan penafian. Artinya kita harus menetapkan seluruh asma’ dan shifat bagi Allah sebgaimana yang Dia tetapkan bagi diri-Nya dalam kitab-Nya atau sunnah nabi-Nya, dan tidak menjadikan sesuatu yang semisal dengan Allah dalam asma’ dan shifat-Nya. Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya :</p>
<p style="text-align:right;">لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءُُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ {11}</p>
<p><em>” Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”(Asy Syuuro:11) </em>. (<em>al Qoulul Mufiid bi Syarhi Kitaabit Tauhiid</em>, Syaikh ’Utsaimin).</p>
<p><strong>Cabang Keimanan yang Tertinggi</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallaam</em> bersabda : “ <em>Iman terdiri dari 70-an atau 60-an cabang. Cabang yang paling tinggi adalah ucapan Laa ilaaha ilallah, sedangkan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah sebagian dari cabang keimanan</em>” Syaikh Abdurrahman As Sa’di menjelaskan : “Cabang keimanan yang paling tinggi dan merupakan pokok sekaligus asasnya adalah ucapan Laa ilaaha ilallah. Ucapan yang jujur dari hati disertai ilmu dan yakin bahwa tidak ada yang memiliki sifat uluhiyah kecuali Allah semata. Dialah Tuhan yang memelihara seluruh alam dengan keutamaan dan ihsan. Semua butuh kepada-Nya sedangkan ia tidak butuh siapapun, semuanya lemah sedangkan Dia Maha Perkasa. Ucapan ini harus dibarengi ubudiyah dalam setiap keadaan, mengikhlaskan agama kepada-Nya. Sesungguhnya seluruh cabang-cabang keimanan adalah cabang dan buah dari asas ini (yakni iman kepada uluhiyah Allah)” (<em>Bahjatu Quluubil Abrar wa Qurrotu ‘Uyuunil Akhyaar</em>, Syaikh Abdurrahman As Sa’di)</p>
<p><strong>Faedah Iman yang Benar</strong></p>
<p>Iman kepada Allah dengan benar akan menghasilkan buah yang agung bagi orang-orang yang beriman, di antaranya :</p>
<ol>
<li style="text-align:left;">Terwujudnya ketauhidan kepada Allah <em>Ta’ala</em>, di mana tidak ada tempat bergantung selain Allah dalam rasa harap dan takut , serta tidak ada yang berhak disembah selain Allah.</li>
<li>Sempurnanya kecintaan kepada Allah <em>Ta’ala</em> dan pengagungan terhadap-Nya sesuai dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi.</li>
<li>Terwujudnya peribadahan kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.</li>
</ol>
<p>(<em>Syarhu Ushuulil Iman</em>, Syaikh ‘Utsaimin)</p>
<p>Semoga Allah <em>Ta’ala</em> meneguhkan dan memperkokoh keimanan kita kepada Allah dan memberikan kita istiqomah di atas iman yang benar.  <em>Wa shalallahu ‘alaihi wa ‘alaa aalihi wa  sallaam.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adikamianoki.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adikamianoki.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adikamianoki.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adikamianoki.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adikamianoki.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adikamianoki.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adikamianoki.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adikamianoki.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adikamianoki.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adikamianoki.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adikamianoki.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adikamianoki.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adikamianoki.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adikamianoki.wordpress.com/89/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adikamianoki.wordpress.com&amp;blog=10042936&amp;post=89&amp;subd=adikamianoki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikamianoki.wordpress.com/2010/01/15/iman-kepada-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57a9a8d1898511362e64cb1c5b3ff441?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adikamianoki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Iman Kepada Para Rasul</title>
		<link>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/12/16/iman-kepada-para-rasul/</link>
		<comments>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/12/16/iman-kepada-para-rasul/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 08:57:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adikamianoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[rukun iman]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[iman kepada rasul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikamianoki.wordpress.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[MENGIMANI PARA UTUSAN ALLAH Rukun Iman keempat yang harus diimani oleh setiap mukmin adalah beriman kepada para Nabi dan Rasul utusan Allah. Diutusnya Rasul merupakan nikmat yang sangat agung. Kebutuhan manusia  terhadap diutusnya rasul melebihi kebutuhan manusia terhadap hal-hal lain. Untuk itu, kita tidak boleh salah dalam meyakini keimanan kita kepada utusan Allah yang mulia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adikamianoki.wordpress.com&amp;blog=10042936&amp;post=87&amp;subd=adikamianoki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>MENGIMANI PARA UTUSAN ALLAH</strong></p>
<p>Rukun Iman keempat yang harus diimani oleh setiap mukmin adalah beriman kepada para Nabi dan Rasul utusan Allah. Diutusnya Rasul merupakan nikmat yang sangat agung. Kebutuhan manusia  terhadap diutusnya rasul melebihi kebutuhan manusia terhadap hal-hal lain. Untuk itu, kita tidak boleh salah dalam meyakini keimanan kita kepada utusan Allah yang mulia ini. Berikut adalah penjelasan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan iman kepada Nabi dan Rasul.</p>
<p><strong>Dalil-Dalil Kewajiban Beriman Kepada Para Rasul</strong></p>
<p>Terdapat banyak dalil yang menunjukkan wajibnya beriman kepada para Rasul, diantaranya adalah firman Allah :</p>
<p style="text-align:right;"><strong>وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ باِللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَالْمَلَئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّنَ</strong></p>
<p>“<em>Akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kiamat, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi</em>” (Al Baqarah :177)</p>
<p style="text-align:right;"><strong>كُلٌّ ءَامَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ُ{285}</strong></p>
<p>“<em>Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya (mereka mengatakan):’ Kita tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang  lain) dan rasul-rasul-Nya’, dan mereka mengatakan “Kami dengar dan kami taat…</em>” (Al Baqarah :285)</p>
<p>Pada ayat-ayat di atas Allah menggandengkan antara keimanan kepada para Rasul dengan keimanan terhadap diri-Nya, malaikat-malaikat-Nya, dan kitab-kitab-Nya. Allah menghukumi kafir orang yang membedakan antara keimanan kepada Allah dan para Rasul, mereka iman terhadap sebagian namun kafir tehadap sebagian yang lain (<em>Al Irsyaad ilaa shahiihil I’tiqaad</em>, Syaikh Shalih Fauzan)</p>
<p><strong>Pokok-Pokok Keimanan Terhadap Para Rasul</strong></p>
<p>Keimanan yang benar terhadap para Rasul Allah harus mengandung empat unsur pokok yaitu :</p>
<ol>
<li>Beriman bahwasanya risalah yang mereka bawa benar-benar risalah yang berasal dari wahyu Allah Ta’ala.</li>
<li>Beriman terhadap nama-nama mereka yang kita ketahui.</li>
<li>Membenarkan berita-berita yang shahih dari mereka.</li>
<li>Beramal dengan syariat Rasul yang diutus kepada kita, yaitu penutup para Nabi, <em> Muhammad sholallahu ‘alaihi wa salaam.</em></li>
</ol>
<p>(<em>Syarhu Ushuuill Iman</em>, Syaikh ‘Utsaimin)</p>
<p><strong>Antara Nabi dan Rasul</strong></p>
<p>Sebagian ulama berpendapat bahwa nabi sama dengan rasul. Namun pendapat yang benar adalah nabi berbeda dengan rasul, walaupun terdapat beberapa persamaan.. Nabi adalah seseorang yang Allah beri wahyu kepadanya dengan syariat untuk dirinya sendiri atau diperintahkan untuk menyampaikan kepada kaum yang sudah bertauhid. Sedangkan rasul adalah seorang yang Allah beri wahyu kepadanya dengan syariat dan diperintahkan untuk menyampaikan kepada kaum yang menyelisihnya. Nabi dan rasul memiliki beberapa persamaan dan perbedaan.<strong></strong></p>
<p>Persamaan Nabi dan rasul adalah :</p>
<ul>
<li>Nabi dan Rasul sama-sama utusan Allah  yang diberi wahyu oleh Allah, berdasarkan firman Allah :</li>
</ul>
<p style="text-align:right;"><strong>وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ وَلاَنَبِيٍّ {52}</strong></p>
<p>“<em>Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi…</em>” (Al Hajj:52). Dalam ayat ini Allah membedakan antara nabi dan rasul, namun menjelasakan kalau keduanya merupakan utusan Allah.</p>
<ul>
<li>Nabi dan rasul sama-sama diutus untuk menyampaikan syariat.</li>
<li>Nabi dan rasul ada yang  diturunkan kepadanya kitab, ada pula yang tidak.</li>
</ul>
<p>Perbedaan nabi dan rasul :</p>
<ul>
<li>Nabi diberi wahyu utnuk disampaikan kepada kaum yang sudah bertauhid atau untuk diamalakan bagi dirinya sendiri, sebagaimana dalam sebuah hadist ”<em>dan akan datang Nabi yang tidak memiliki satu pun pengikut</em>”. Sedangkan rasul diutus untuk menyampaikan syariat kepada kaum yang mneyelisihinya.</li>
<li>Nabi mengikuti syariat  sebelumnya yang sudah ada, sedangkan rasul terkadang mengikuti syariat sebelumnya – seperti Yusuf yang diutus untuk  kaumnya dengan syariat yang dibawa oleh Ibrahim dan Ya’kub-  dan terkadang membawa syariat baru. (Lihat <em>Syarhu al ‘Aqidah Ath Thahawiyah</em>, Syaikh Sholeh Alu Syaikh)</li>
</ul>
<p><strong>Para Nabi dan Rasul Mengajarkan Agama yang Satu</strong></p>
<p>Seluruh Nabi mengajarkan agam yang satu, walupun mereka meiliki syariat-syariat yang berbeda. Allah Ta;ala berfirman :</p>
<p style="text-align:right;">شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَاوَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَاوَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلاَتَتَفَرَّقُوا فِيهِ {13}</p>
<p>“<em>Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya….</em> ”(Asy Syuuraa:13)</p>
<p style="text-align:right;">يَآأَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَاتَعْمَلُونَ عَلِيمٌ {51} وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونَ {52}</p>
<p>“ <em>Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku</em>” (Al Mu’minun:51-52)</p>
<p>Nabi <em>sholallahu ‘alaihi wa salaam</em> bersabda :” Sesungguhnya seluruh para nabi agama kami satu, dan para nabi adalah saudara” (mutafqun ‘alaih).</p>
<p>Agama seluruh para Nabi adalah satu, yaiu agamaIslam. Allah tidak akan menerima agama selain Islam. Yang dimaksud dengan islam adalah berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkann-Nya, tunduk kepada Allah dengan mentaatinya, dan menjauhkan diri dari perbuatan syirik dan orang-orang musyrik. (<em>Al Irsyaad ilaa shahiihil I’tiqaad, Syaikh Shalih Fauzan</em>).</p>
<p><strong>Mendustakan Satu = Mendustakan Semuanya</strong></p>
<p>Kewajiban seorang mukmin adalah beriman bahwa risalah para rasul adalah benar-benar dari Allah. Barangsiapa mendustakan risalah mereka, sekalipun hanya salah seorang di antara mereka, berarti ia telah mendustakan seluruh para rasul. Hal ini berdasarakan firman Allah Ta’ala :</p>
<p style="text-align:right;"><strong>كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ {105}</strong></p>
<p>“Kaum Nabi Nuh telah mendustakan para Rasul” (Asy Syu’araa’:105)</p>
<p>Dalam ayat in Allah menilai tindakan kaum Nuh sebagai pendustaan kepada para rasul yang diutus oleh Allah, padahal ketika diutusnya Nuh belum ada seoarang rasulpun selain Nabi Nuh. Berdasarkan hal ini maka orang-orang Nasrani yang mendustakan Muhammad <em>sholallahu ‘alaihi wa salaam</em> dan tidak mau mengikuti beliau berarti mereka telah mendustakan Al Masih bin Maryam (Nab Isa <em>‘alaihis salaam</em>) dan tidak mengikuti ajarannya. (<em>Syarhu Ushuulil Iman</em>, Syaikh ‘Utsaimin)</p>
<p><strong>Mengimani Nama Para Rasul</strong></p>
<p>Termasuk pokok keimanan adalah kita beriman bahwa para Rasul Allah memiliki nama. Sebagiannya diberitakan kepada kita dan sebagiannya tdak diberitakan kepada kita. Yang diberikan kepada kita  seperti Muhanmad, Ibrahim, Musa, ‘Isa, dan Nuh <em>‘alahimus shalatu wa salaam</em>. Kelima nama tersebut adalah para Rasul ‘Ulul Azmi. Allah Ta’ala telah menyebut mereka pada dua (tempat) surat di dalam Al Quran yakni surat Al Ahzaab dan As Syuraa</p>
<p style="text-align:right;"><strong>وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنكَ وَمِن نُّوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ&#8230; {7}</strong></p>
<p>“<em>Dan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa bin Maryam…</em>” (Al Ahzab:7)</p>
<p style="text-align:right;">شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَاوَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَاوَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلاَتَتَفَرَّقُوا فِيهِ&#8230; {13}</p>
<p>“<em>Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya</em>” (Asy Syuraa:13)</p>
<p>Adapun terhadap para rasul yang tidak kita ketahui nama-namanya, kita beriman secara global. Allah Ta’ala berfirman :</p>
<p style="text-align:right;">وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِّن قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُم مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ &#8230;{78}</p>
<p>“<em>Dan sesungguhnya telah Kami utus bebrapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu</em>” (Al Mukmin:78). (<em>Syarhu Ushuulil Iman</em>, Syaikh ‘Utsaimin)</p>
<p><strong>Para Rasul Pemberi Kabar Gembira Sekaligus Pemberi Peringatan</strong></p>
<p>Allah mengutus para Rasul untuk menyampaikan kabar gembira sekaligus memberikan peringatan. Ini merupakan salah satu dari hikmah diutusnya para rasul kepada manusia. Maksud menyampaikan kabar gembira adalah menyebutkan pahala bagi orang yang taat, sekaligus memberikan peringatan kemudian mengancam orang yang durhaka dan orang kafir dengan kemurkaan dan siksa Allah. Allah Ta’ala berfirman :</p>
<p style="text-align:right;"><strong>رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللهِ حُجَّةُُ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللهُ عَزِيزًا حَكِيمًا {165}</strong></p>
<p>“<em>(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada lagi alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu</em>” (An Nisaa’ 165).</p>
<p>Ayat ini merupakan dalil bahwa tugas para rasul ialah memberikan kabar gembira bagi siapa saja yang mentaati Allah dan mengikuti keridhaan-Nya dengan melakukan kebaikan. Dan bagi siapa yang menentang perintah-Nya dan mendustakan para rasul-Nya akan diancam dengan hukum dan siksaan. (<em>Husuulul Ma’muul bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuul</em>, Syaikh Shalih Fauzan)</p>
<p><strong>Nuh yang Pertama, Muhammad Penutupnya</strong></p>
<p><strong> </strong>Termasuk keyakinan <em>ahlussunnah</em> adalah beriman bahwasnya Rasul yang petama diutus adalah Nuh <em>‘alahis salaam</em> dan yang terkhir adalah Muhammad <em>sholallahu ‘alaihi wa salaam</em>. Dalil yang menunjukkan bahwa Nuh adalah Rasul pertama adalah firman Allah :</p>
<p style="text-align:right;"><strong>إِنَّآأَوْحَيْنَآإِلَيْكَ كَمَآأَوْحَيْنَآإِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ &#8230;{163}</strong></p>
<p>“<em>Sesungguhnya Kami telah memberkan wahyu kepadamu sebagaman Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya&#8230;</em>” (An Nisaa’:163)</p>
<p>Para ulama berdalil dengan ayat ini bahwa Nuh adalah rasul pertama. Sisi pendalilannya adalah dari kalimat “ dan nabi-nabi yang kemudiannya”. Jika ada rasul sebelum Nuh tentunya telah disebutkan dalam ayat ini.</p>
<p>Adapun dalil dari sunnah adalah sebuah hadist shahih tentang syafaat, ketika manusia mendatangi Nabi Adam untuk meminta syafaat, beliau berkata kepada mereka :” Pergilah kalian kepada Nuh, karena ia adalah rasul pertama yang diutus ke muka bumi”. Maka mereka pun mendatangi Nuh dan berkata : “engkau adalah rasul pertama yang diutus ke bumi…” (Muttafaqun ‘alaihi). Hadist ini merupakan dalil yang paling kuat menunjukkan bahwa Nuh adalah rasul pertama. Dan Nabi Adam sendiri menyebutkan bahwa Nuh sebagai Rasul pertama di atas muka bumi. (<em>Husuulul Ma’muul bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuul</em>, Syaikh Shalih Fauzan)</p>
<p>Sedangakan Rasul yang terkahir adalah Muhammad <em>sholallahu ‘alaihi wa salaam</em>. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :</p>
<p style="text-align:right;"><strong>مَّاكَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا {40}</strong></p>
<p>“<em>Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi. Dia adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu</em>” (Al Ahzab:40).</p>
<p>Rasulullah <em>sholallahu ‘alaihi wa salaam</em> bersabda : “<em>Aku adalah penutup para Nabi, dan beliau berkata :’ Tidak ada Nabi sesudahku</em>”. Hal ini melazimkan berakhirnya ditutsnya para Rasul, karena berakhirnya yang lebih umum (yakni diutusnya Nabi) melazimkan berakhirnya yang lebih khusus (yakni diutusnya Rasul). Makna berakhirnya kenabian dengann kenabian Muhammad yakni<em> </em>tidak adanya pensyariatan baru setelah kenabian dan syariat yang dibawa oleh Muhammad <em>sholalahu ‘alaihi wa salaam</em>. (<em>Al Irsyaad ilaa Shahiihil I’tiqaad</em>, Syaikh Shalih Fauzan). <strong> </strong></p>
<p><strong> Buah Manis Iman yang Benar Terhadap Para Rasul</strong></p>
<p>Keimanan seorang mukmin yang benar terhadap para Rasul Allah akan memberikan faedah yang berharga, di antaranya adalah:</p>
<ol>
<li>Mengetahui akan rahmat Allah dan perhatian-Nya kepada manusia dengan mengtus kepada mereka para Rasul untuk member petunjuk kepada merka kepada jalan Allah dan memeberikan penjelasan kepada mereka bagaimana beribadah kepada Allah  karena akal manusia tidak dapat menjangkau hal tersebut.</li>
<li>Bersyukur kepada Allah atas nikmat yang sangat agung ini.</li>
<li>Mencintai para Rasul,, mengagungkan mereka , serta memeberikan pujian yang layak bagi mereka. Karena mereka adalah utusan Allah Ta’ala dan senantiasa menegakkan ibadah kepada-Nya serta menyampaikan risalah dan memberikan nasehat kepada para hamba. (<em>Syarhu Ushuuill Iman</em>, Sayikh ‘Utsaimin)</li>
</ol>
<p>Semoga Allah Ta’ala senantiasa menetapkan hati kita kepada keimanan yang benar. <em>Washolallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adikamianoki.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adikamianoki.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adikamianoki.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adikamianoki.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adikamianoki.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adikamianoki.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adikamianoki.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adikamianoki.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adikamianoki.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adikamianoki.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adikamianoki.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adikamianoki.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adikamianoki.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adikamianoki.wordpress.com/87/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adikamianoki.wordpress.com&amp;blog=10042936&amp;post=87&amp;subd=adikamianoki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/12/16/iman-kepada-para-rasul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57a9a8d1898511362e64cb1c5b3ff441?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adikamianoki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Iman Kepada Malaikat</title>
		<link>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/11/26/iman-kepada-malaikat/</link>
		<comments>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/11/26/iman-kepada-malaikat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 22:12:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adikamianoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[aqidah muslim sejati]]></category>
		<category><![CDATA[rukun iman]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[iman kepada malaikat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikamianoki.wordpress.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[KEIMANAN YANG BENAR TERHADAP  MALAIKAT ALLAH Salah satu rukun iman yang wajib diimani oleh setiap mukmin adalah beriman kepada malaikat-malaikat Allah. Hal ini sebagaimana diterangkan oleh Rasulullah dalam hadist Jibril, ketika malaikat Jibril ditanya tentang iman, kemudian dijawab oleh Rasululloh sholallahu ‘alaihi wa sallaam : “ Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya. Kitab-kitab-Nya, rosul-rosul-Nya, hari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adikamianoki.wordpress.com&amp;blog=10042936&amp;post=83&amp;subd=adikamianoki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KEIMANAN YANG BENAR TERHADAP  MALAIKAT ALLAH</strong></p>
<p>Salah satu rukun iman yang wajib diimani oleh setiap mukmin adalah beriman kepada malaikat-malaikat Allah. Hal ini sebagaimana diterangkan oleh Rasulullah dalam hadist Jibril, ketika malaikat Jibril ditanya tentang iman, kemudian dijawab oleh Rasululloh <em>sholallahu ‘alaihi wa sallaam</em> : “ <em>Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya. Kitab-kitab-Nya, rosul-rosul-Nya, hari akhir, dan terhadap takdir yang baik dan yang buruk.”</em> (H.R. Muslim). Hal ini berarti tidak sah keimanan seseorang sehingga dia beriman dengan benar terhadap malaikat-malaikat Allah. Bagaimana keimanan yang benar terhadap para malaikat? Mari kita simak penjelasan berikut.</p>
<p><strong>Cakupan Iman Kepada Malaikat</strong></p>
<p>Keimanan seorang mukmin terhadap malaikat harus mencakup hal-hal berikut :</p>
<ol>
<li>Beriman terhadap wujud (keberadaan) para malaikat.</li>
<li>Beriman terhadap nama-nama malaikat.</li>
<li>Beriman terhadap sifat-sifat malaikat.</li>
<li>Beriman terhadap amalan-amalan dan tugas-tugas malaikat. (Syarah Ushul Iman)</li>
</ol>
<p>Tidak sah keimanan seseorang kepada para malaikat kecuali harus mencakup keempat unsur tersebut, baik berupa keimanan yang <em>mujmaal</em> (global) maupun <em>tafshiil</em> (terperinci). Barangsiapa yang mengingkarinya berarti batal keimanannya kepada malaikat Allah dan batal seluruh keimanannya.</p>
<p><strong>Wujud Malaikat </strong></p>
<p>Termasuk syarat sah keimanan seseorang kepada malaikat adalah mengimani wujud (keberadaan) malaikat. Malaikat adalah makhluk yang Allah ciptakan dari cahaya. Wujud mereka benar-benar ada. Tidak sebagaimana keyakinan orang-orang yang sesat. Mereka mengingkari tentang keberadaan malaikat sebagai makhluk (mereka mengingkari <em>jism</em> malaikat)). Mereka mengatakan bahwa malaikat hanyalah kiasan dari kekuatan maknawi berupa kekuatan baik yang tersembunyi dalam diri para makhluk. Anggapan seperti ini berarti mereka telah mendustakan al Quran, hadist-hadist Nabi yang <em>shahih</em>, dan<em> ijmaa</em>’ (kesepakatan kaum muslimin).  Padalah Allah <em>Ta’ala</em> berfirman :</p>
<p style="text-align:right;"><strong>الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلاَئِكَةِ رُسُلاً أُوْلِى أَجْنِحَةٍ مَّثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَايَشَآءُ إِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ {</strong><strong>1}</strong></p>
<p>“ <em>Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi. Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.</em>”(Faathir:1)</p>
<p style="text-align:right;"><strong>وَلَوْ تَرَى إِذْ يَتَوَفَّى الَّذِينَ كَفَرُوا الْمَلاَئِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ {50}</strong></p>
<p>“<em>Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata) :”Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar</em>” (Al Anfaal:50)</p>
<p>Di dalam <em>shahih</em> Bukhari juga disebutkan, dari Abu Huroiroh dari Nabi <em>sholallahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda : “Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril dan berkata bahwasanya Allah mencintai fulan maka cintailah fulan, dan Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril pun mengumumkan kepada penghun langit bahwasnya Allah mencintai fulan, maka cintailah ia, dan para penghuni langit itupun mencintai fulan. Kemudian dikabulkanlah permohonanya di dunia” (H.R. Bukhori)</p>
<p>Dalil-dalil di atas secara gamblang menjelaskan bahwa malaikat itu makhluk yang diciptakan Allah (berjism) dan bukanlah kekuatan maknawi sebagaiamana anggapan orang-orang sesat, dan kaum muslimin telah <em>ijmaa’</em> berdasarkan dalil-dalil tersebut. (Syarah Ushuul Iman, Syaikh ‘Utsaimin)</p>
<p><strong>Penamaan Malaikat</strong></p>
<p>Malaikat-malaikat Allah memiliki nama. Kewajiban kita adalah beriman secara global bahwa para malaikat memiliki nama dan kita beriman dengan nama-nama yang secra rinci telah disebutkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Di antara nama-nama malaikat adalah Jibril, Mikail, serta Isrofil.</p>
<p>Kita juga beriman secara global adanya malaikat-malaikat Allah yang tidak kita ketahui namanya. Tidak boleh seseorang menamakan malaikat tanpa ada dalil-dali yang sahahih dari Al Quran dan As Sunnah.</p>
<p><strong>Bentuk dan Sifat Malaikat</strong></p>
<p>Kita wajib mengimani sifat malaikat yang telah dikhabarkan oleh Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Baik itu sifat berupa sifat <em>kholqiyah</em> maupun sifat <em>khuluqiyah</em>. Sifat <em>kholqiyah</em> yaitu sifat berupa bentuk /wujud/fisik malaikat. Seperti tentang sifat Malaikat Jibril yang disebutkan oleh Rasulullah, beliau pernah menlihat malaikat Jibril dalam sifat aslinya yang memiliki enam ratus sayap yang hampir menutupi ufuk.</p>
<p>Kita juga mengimani sifat malaikat yang berupa sifat <em>khuluqiyah</em>,  yaitu berupa sifat-sifat kebaikan seperti yang Allah firmankan :</p>
<p style="text-align:right;"><strong>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلآئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادُُ لاَّيَعْصُونَ اللهَ مَآأَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَايُؤْمَرُونَ {</strong>6}</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bhan bakarnya adalah manusa dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkannya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan</em>” (At Tahriim:6)</p>
<p style="text-align:right;"><strong>لاَيَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُم بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ {27}</strong></p>
<p>“<em>mereka (malaikat-malaikat) itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya</em>” (Al Anbiyaa’:27).</p>
<p><strong>Malaikat dan Tugasnya</strong></p>
<p>Malaikat-malaikat adalah makhlul Allah yang mulia. Mereka semua tunduk dan patuh kepada perintah Allah. Sebagian malaikat memiliki tugas yang khusus yang Allah berikan kepada mereka, di antaranya :</p>
<ol>
<li>Malaikat Jibril . Beliau memiliki tugas khusus menyampaikan wahyu Allah kepada para Nabi dan Rasul.</li>
<li>Malikat Mikail yang bertugas mengatur hujan dan tumbuh-tumbuhan.</li>
<li>Malaikat Isrofil yang bertugas meniup sangkakala ketika datang hari kiamat dan saat kebangkitan manusia.</li>
<li>Malaikat maut yang bertugas mencabut nyawa seseorang ketika ajal sudah datang.</li>
<li>Malaikat yang bertugas menjaga surga dan neraka.</li>
<li>Dua malaikat yang berada di sisi kanan dan kiri manusia yang mencatat amal manusia.</li>
<li>Dua malaikat yang mendatangi ketika seseorang sudah di alam kubur, dan bertanya kepadanya tentang siapa Rabbnya, siapa Nabinya, dan apa agamanya. (Syarah Ushul Iman)</li>
</ol>
<p>Ini di antara bebrapa malaikat yang memiiliki tugas khusus yang telah Allah dan Rasul-Nya khabarkan kepada kita. Kewajiban kita adalah mengimani hal tersebut . Sementara yang tidak ada perinciannya maka kita beriman secara global tentang tugas-tugas dan amalan para malaikat Allah.</p>
<p>Namun yang perlu kita perhatikan, bukan berarti Allah butuh terhadap makhluk. Allah bisa mengatur segala urusan tanpa bantuan para malaikat-malaikat-Nya.</p>
<p><strong>Berapakah Jumlah Malaikat?</strong></p>
<p>Masih segar dalam  ingatan penulis, ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar mendapatkan penjelasan bahwasanya jumlah malaikat itu ada sepuluh. Benarkah demikian? Ternyata jumlah malaikat tidak terbatas hanya sepuluh. Jumlah mereka sangat banyak, hanya Allah yang mengetahuinya. Allah berfirman :</p>
<p style="text-align:right;"><strong>وَمَايَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلاَّهُوَ</strong></p>
<p>“<em>Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu (yakni malaikat) melainkan Dia sendiri</em>” (Al Mudatsiir:31).</p>
<p>Di antara dalil yang menunjukkan banyaknya bilangan malaikat dan tidak ada yang dapat menghitungnya kecuali Allah adalah sebuah hadist shahih yang berkaitan dengan baitul makmur, bahwa Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya baitul makmur berada di langit yang ketujuh setentang dengan ka’bah di bumi, setap hari dikunjungi sebanyak tujuh puluh ribu malaikat , kemudian mereka tidak akan kembali lagi” (H.R Bukhori dan Muslim). (<em>Husuulul Ma’muul bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuul, </em>Syaikh Sholeh Fauzan).</p>
<p><strong>Keutamaan Malaikat</strong></p>
<p>Malaikat-malaikat Allah memiliki beberapa keutamaan, antara lain :</p>
<p>1. Allah <em>Ta’ala</em> mengidhofahkan (menyandarkan) malaikat kepada Alloh dengan <em>idhoofathu tasyriif</em> (penyandaran yang menunjukkan kemuliaan), seperti dalam firman-Nya :</p>
<p style="text-align:right;"><strong>مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِّلَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِّلْكَافِرِينَ {98}</strong></p>
<p>“<em>Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir</em>” (Al Baqoroh:98)</p>
<p style="text-align:right;"><strong>ءَامَنَ الرَّسُولُ بِمَآأُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ ءَامَنَ بِاللهِ وَمَلا</strong><strong>َئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ</strong><strong>{285}</strong></p>
<p>“<em>Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhan-nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya…</em>” (Al Baqoroh 285)</p>
<p>2. Allah menggandengkan persaksian para malaikat dengan persaksian Allah, dan shalawat para malaikat dengan shalawat Allah, seperti dalam firman-Nya</p>
<p style="text-align:right;"><strong>شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لآَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُوا الْعِلْمِ قَآئِمًا بِالْقِسْطِ لآَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ {18}</strong></p>
<p>“<em>Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia. Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia. Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.</em>” (Ali Imron 18)</p>
<p>3. Allah menyifati para malaikat dengan mulia dan kemuliaan. Allah berfirman  :</p>
<p style="text-align:right;"><strong>وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُّكْرَمُونَ {26}</strong></p>
<p>“Dan mereka berkata:”Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai )anak. Maha Suci Allah, sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan” (Al Anbiyaa’:26)</p>
<p>4. Allah menyifatinya dengan ketinggian dan kedekatan, sebagaimana dalam firman Allah:</p>
<p style="text-align:right;"><strong>يَشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُونَ {</strong>21}</p>
<p>“ yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan kepada Allah” (Al Muthaffifin:21)</p>
<p>Dan masih banyak keutamaan lainnya. (Lihat <em>Al Irsyaad ilaa shohiihil I’tiqaad, </em>Syaikh Sholeh Fauzan ).</p>
<p><strong>Buah Keimanan Kepada Malaikat</strong></p>
<p>Keimanan seseorang yang benar terhadap malaikat akan membuahkan hasil yang bermanfaat yaitu :</p>
<ol>
<li>Menambah ilmu tentang keagungan, kekuatan, dan kekuasaan Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>. Karena keagungan makhluk menujukkan keagungan penciptanya.</li>
<li>Bersyukur kepada Allah terhadap penjagaan-Nya terhadap bani adam, karena di antara malaikat ada yang bertugas menjaga mereka, mencatat amal-amal mereka, serta memberikan maslahat-maslahat yang lainnya bagi mereka.</li>
<li>Muncul kecintaan kepada malaikat disebabkan ketaatan mereka beribadah kepada Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>. (Syarah Ushuul Iman, Syaikh ‘Utsaimin)</li>
</ol>
<p>Demikian bebrapa penjelasan mengenai keimanan yang benar terhadap para malaikat Allah. Semoga dapat memperkokoh aqidah kita. <em>Wallohu Ta’ala a’lam bi showaab.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adikamianoki.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adikamianoki.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adikamianoki.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adikamianoki.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adikamianoki.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adikamianoki.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adikamianoki.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adikamianoki.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adikamianoki.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adikamianoki.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adikamianoki.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adikamianoki.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adikamianoki.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adikamianoki.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adikamianoki.wordpress.com&amp;blog=10042936&amp;post=83&amp;subd=adikamianoki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/11/26/iman-kepada-malaikat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57a9a8d1898511362e64cb1c5b3ff441?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adikamianoki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Klasifikasi Tauhid</title>
		<link>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/11/09/klasifikasi-tauhid/</link>
		<comments>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/11/09/klasifikasi-tauhid/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 21:10:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adikamianoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[kitab tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikamianoki.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[KLASIFIKASI TAUHID Judul kitab yang kita bahas adalah Kitabu At Tauhid. Al kitab berarti sesuatu yang ditulis dengan pena, atau bisa juga berarti kumpulan atau himpunan, yang diambil dari kata katiibah yang berarti sekumpulan kuda.( Al Qoulul Mufiid Syarhu Kitabi at Tauhiid hal 6) Makna Tauhid Tauhid secara bahasa merupakan mashdar dari kata wahhada. Jika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adikamianoki.wordpress.com&amp;blog=10042936&amp;post=80&amp;subd=adikamianoki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>KLASIFIKASI TAUHID</strong></p>
<p>Judul kitab yang kita bahas adalah <em>Kitabu At Tauhid</em>. <em>Al kitab</em> berarti sesuatu yang ditulis dengan pena, atau bisa juga berarti kumpulan atau himpunan, yang diambil dari kata <em>katiibah</em> yang berarti sekumpulan kuda.(<em> Al Qoulul Mufiid Syarhu Kitabi at Tauhiid </em>hal 6)</p>
<p><strong>Makna Tauhid</strong></p>
<p>Tauhid secara bahasa merupakan <em>mashdar</em> dari kata <em>wahhada</em>. Jika dikatakan <em>wahhada syaia</em> artinya menjadikan sesuatu itu satu. Sedangkan menurut syariat berarti mengesakan Alloh dalam sesuatu yang merupakan kekhususan bagi-Nya berupa rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat. ( <em>Al</em> <em>Qoulul Mufiid Syarhu Kitabi at Tauhiid</em> hal 7).</p>
<p><strong> </strong>Kata tauhid sendiri merupakan kata yang terdapat dalam hadist-hadist Nabi <em>sholallohu ‘alaihi wa sallaam</em>, sebgaimana dalam hadist Mu’adz bin Jabal <em>rodhiyallohu’anhu</em> : “Engkau akan mendatangi kaum ahli kitab, maka jadikanlah materi dakwah yang kamu sampaikan pertama kali adalah agar mereka men<strong>tauhid</strong>kan Alloh”. Demikan juga dalam perkataan sahabat Nabi : “Rosululloh bertahlil dengan <strong>tauhid</strong>”. Dalam ucapan beliau <em>labbaika allohumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbaika, </em>ucapan talbiyah yang diucapkan ketika memulai ibadah haji. Dengan demikian kata tauhid adalah kata yang terdapat dalam hadist Nabi <em>sholallohu ‘alaihi wa sallaam</em> (<em>Syarah Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah</em> Syaikh Sholeh Alu Syaikh hal 63)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Pembagian Tauhid </strong></p>
<p>Pembagian yang masyhur di kalangan ulama adalah pembagian tauhid menjadi tiga yaitu  tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat. Pembagian ini terkumpul dalam firman Alloh:</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:right;">رب السماوات والأرض ومابينهما فاعبدوه واصطبر لعبادته هل تعلم له سميا {65</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Rabb(yang menguasai) langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)? (Maryam:65).</em> Berikut penjelasannya :<strong> </strong></p>
<p><strong>(1). Tauhid rububiyah</strong>. Maknanya adalah      mengesakan Alloh dalam hal penciptaan, kepemilikan, dan pengurusan. Di      antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah firman Alloh:</p>
<p><em> </em></p>
<p style="text-align:right;"><strong>أَلاَلَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ {54</strong></p>
<p><em>“Ingatlah, menciptakan dan memrintahkan hanyalah hak Alloh” (Al A’rof:54)</em></p>
<p><strong>(2). Tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah</strong>.      Disebut tauhid uluhiyah karena penisbatanya kepada Alloh dan disebut tauhid      ibadah karena penisbatannya kepada makhluk. Adapun maksudnya ialah      pengesaan Alloh dalam ibadah. Hanya Alloh satu-satunya yang berhak      diibadahi. Alloh <em>Ta’ala</em> berfirman :</p>
<p><em> </em></p>
<p style="text-align:right;">ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَايَدْعُونَ مِن دُونِهِ الْبَاطِلُ {30</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>” Demikianlah, karena sesungguhnya Alloh, Dialah yang hak dan sesungguhnya yang mereka seru selain Alloh, itulah yang batil” (Luqman :30).</em></p>
<p><strong>(3). Tauhid asma’ wa shifat</strong>. Maksudnya      adalah  pengesaan Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em> dengan asma’ dan shifat      yang menjadi milik-Nya. Tauhid ini mencakup dua hal yaitu penetapan dan      penafian. Artinya kita harus menetapkan seluruh asma’ dan shifat bagi      Alloh sebgaimana yang Dia tetapkan bagi diri-Nya dalam kitab-Nya atau      sunnah nabi-Nya, dan tidak menjadikan sesuatu yang semisal dengan Alloh      dalam asma’ dan shifat-Nya. Hal ini ditegsakan Alloh dalam firman-Nya :</p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p style="text-align:right;">لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءُُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ {11}<em> </em></p>
<p><em>” Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”(Asy Syuuro:11) </em></p>
<p>(Diringkas dari <em>Al Qoulul Mufiid Syarhu Kitaabi at Tauhiid </em>hal 7-10)</p>
<p>Sebagian ulama membagi tauhid menjdi dua saja yaitu tauhid dalam <em>ma’rifat wal istbat</em> (pengenalan dan penetapan) dan <em>tauhid fii tholab wal qosd</em> (tauhid dalam tujuan ibadah). Jika dengan pembagian seperti ini maka tauhid rububiyah dan tauhid asma’ wa shifat termasuk golongan yang pertama sedangkan tauhid uluhiyah adalah golongan yang kedua. (Lihat Fathul Majiid hal 18)</p>
<p><strong>Antara Tauhid Rububuyah dan Uluhiyah</strong></p>
<p>Antara tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah mempunyai hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Tauhid rububiyah mengkonsekuensikan tauhid uluhiyah. Maksudnya pengakuan seseorang terhadap tauhid uluhiyah mengharuskan pengakuannya terhadap tauhid uluhiyah. Barangsiapa yang telah mengetahui bahwa Alloh adalah Tuhannya yang menciptakannya dan mengatur segala urusannya, mengharuskan baginya beribadah hanya kepada Alloh dan tidak menyekutukannya. Sedangkan tauhid uluhiyah terkandung di dalamnya tauhid rububiyah. Maksudnya, tauhid rububiyah termasuk bagian dari tauhid uluhiyah. Barangsiapa yang beribadah kepada Alloh semata dan tidak menyekutukannya, pasti meyakini bahwa Allohlah Tuhannya dan penciptanya. Hal ini sebgaimana perkatan Nabi Ibrohim ‘<em>alaihis salaam</em> :</p>
<p style="text-align:right;"><strong>قَالَ أَفَرَءَيْتُم مَّاكُنتُمْ تَعْبُدُونَ {75} أَنتُمْ وَءَابَآؤُكُمُ اْلأَقْدَمُونَ {76} فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِّي إِلاَّرَبَّ الْعَالَمِينَ {77} الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ {78} وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ {79} وَإِذَامَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ {80} وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ {81} وَالَّذِي أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ {82</strong></p>
<p><em>“ Ibrohim berkata : “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah(75), kamu dan nenek moyang kamuyang dahulu?(76), karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam(77), (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku(78), dan Tuhanku, Yang Dia member makan dan minum kepadaku(79), dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkanku(80), dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali)(81), dan Ynag amat aku inginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat(82).” </em>(Asy Syu’aroo’:75-82)</p>
<p>Tauhid rububyah dan uluhiyah  terkadang disebutkan bersamaan, maka ketika itu maknanya berbeda, karena pada asalnya ketika ada dua kalimat yang disebutkan secara bersamaan dengan kata sambung menunjukkan dua hal yang berbeda. Hal ini sebgaimana firman Alloh :</p>
<p style="text-align:right;"><strong>قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ {1} مَلِكِ النَّاسِ {2} إِلَهِ النَّاسِ {3</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>“Katakanlah ;” Aku berlindung kepada Robb (yang memlihara dan menguasai) manusia(1). Raja manusia(2). Sesembahan manusia(3).” (An Naas :1-3).</em></p>
<p>Makna <em>Robb</em> dalam ayat ini adalah Raja yang mengatur manusia, sedangkan makna <em>Ilaah</em> adalah sesembahan satu-satunya yang berhak untuk disembah.</p>
<p>Terkadang tuhid uluhiyah atau rububiyah disebut sendiri tanpa bergandengan. Maka ketika disebutkan salah satunya mencakup makna keduanya. Hal ini sebagaimana ucapan malaikat maut kepada mayit di kubur : Siapa Robbmu? Maka maknanya Siapakah penciptamu dan sesembahanmu? Hal ini juga sebagaimanan firman Alloh :</p>
<p style="text-align:right;"><strong>الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِم بِغَيْرِ حَقٍّ إِلآَّ أَن يَقُولُوا رَبُّنَا اللهُ {40</strong></p>
<p><em>“(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata :”Tuhan kami hanyalah Alloh” (Al Hajj:40)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p style="text-align:right;"><strong>قُلْ أَغَيْرَ اللهِ أَبْغِي رَبًّا {164</strong></p>
<p><em>“Katakanlah:”Apakah aku akan mencari Tuhan selain Alloh” (Al An’am :164)</em></p>
<p style="text-align:right;"><strong>إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا {30</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Sesungguhnya ornag-orang yang mengaatkan “Tuhan kami ialah Alloh” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka” (Fushshilat :30).</em></p>
<p>Penyebutan rububiyah dalam ayat-ayat di atas mengandung makna uluhiyah (<em>Al irsyaad ilaa shohiihili i’tiqoodI </em>hal 27-28)</p>
<p><strong>Isi Al Quran Semuanya Tentang Tauhid</strong></p>
<p>Imam Ibnul Qoyyim <em>rohimahulloh</em> menjelaskan bahwa isi Al Quran semuanya adalah tentang tauhid. Maksudnya karena isi Al Quran menjelaskan hal-hal berikut :</p>
<ol>
<li>Berita      tentang Alloh, nama-nama-Nya, shifat-shifat-Nya, perbuatan-Nya, dan      perkataan-Nya. Ini adalah termasuk <em>tauhidul      ‘ilmi al khobari</em> (termasuk di dalamnya tauhid rububiyah dan asma’ wa      sifat).</li>
<li>Seruan      untuk untuk beribadah hanya kepada Alloh semata dan tidak      mempersekutukan-Nya. Ini adalah <em>tauhidul      iroodi at tholabi </em>(tauhid uluhiyah).</li>
<li>Berisi      perintah dan larangan serta keharusan untuk taat dan menjauhi larangan. Hal-hal      tersebut merupakan <em>huquuqut tauhid      wa mukaamilatuhu </em>(hak-hak tauhid dan penyempurna tauhid).</li>
<li>Berita      tentang kemuliaan ahli tauhid, tentang amalan kehidupannya di dunia dan      balasan kemuliaan di akhirat. Ini termasuk <em>jazaaut tauhid</em> (balasan bagi ahli tauhid).</li>
<li>Berita      tentang ahli syirik, tentang amalan kehidupannya di dunia dan balasan adzab      di akirat. Ini termasuk balasan bagi yang menyelisihi hukum tauhid.</li>
</ol>
<p>Dengan demikian Al quran seluruhnya berisi tentang tauhid, hak-haknya dan balasannya. Selain itu juga berisi tentang kebalikan tauhid yaitu syirik, tentang orang-orang musyrik dan balasannya. (Penjelasan Imam Ibnul Qoyyim yang dinukil dalam <em>Fathul Majiid</em> hal 19)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selesai disusun Senin menjelang Subuh, 21 Dzulqo’dah 1430 H/9 November 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adikamianoki.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adikamianoki.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adikamianoki.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adikamianoki.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adikamianoki.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adikamianoki.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adikamianoki.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adikamianoki.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adikamianoki.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adikamianoki.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adikamianoki.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adikamianoki.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adikamianoki.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adikamianoki.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adikamianoki.wordpress.com&amp;blog=10042936&amp;post=80&amp;subd=adikamianoki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/11/09/klasifikasi-tauhid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57a9a8d1898511362e64cb1c5b3ff441?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adikamianoki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Muqoddimah Kitab Tauhid</title>
		<link>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/11/08/muqoddimah-kitab-tauhid/</link>
		<comments>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/11/08/muqoddimah-kitab-tauhid/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 03:13:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adikamianoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[kitab tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[muqoddimah]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikamianoki.wordpress.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[MUQODDIMAH KITAB TAUHID Awali dengan Bismillah Seperti kebiasaan para ulama dalam menulis kitab, penulis di sini memulai kitab beliau dengan basmalah.  Hal ini karena beberapa alasan : Mencontoh kitab Alloh, di mana Al Quran dimulai dengan basmalah. Seluruh surat dalam Al Quran dimulai dengan basmalah kecuali surat At Taubah. Mencontoh Rosululloh Muhammad sholallahu ‘alaihi wa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adikamianoki.wordpress.com&amp;blog=10042936&amp;post=73&amp;subd=adikamianoki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>MUQODDIMAH KITAB TAUHID</strong></p>
<p><strong>Awali dengan Bismillah</strong></p>
<p>Seperti kebiasaan para ulama dalam menulis kitab, penulis di sini memulai kitab beliau dengan basmalah.  Hal ini karena beberapa alasan :</p>
<ul>
<li>Mencontoh kitab Alloh, di mana Al Quran dimulai dengan basmalah. Seluruh surat dalam Al Quran dimulai dengan basmalah kecuali surat At Taubah.</li>
<li>Mencontoh Rosululloh Muhammad <em>sholallahu ‘alaihi wa sallam </em>dalam perbuatan beliau. Beliau menulis risalah beliau diawali dengan bismillah.</li>
<li>Mencontoh para Rosul. Hal ini sebagaiman dikisahkan oleh Alloh Ta’ala tentang Nabi Sulaiman ketika menulis surat kepada Balqis.</li>
<li>Mencontoh perbuatan para ulama-ulama pendahulu beliau ketika memulai menulis kitab.</li>
</ul>
<p>Memulai dengan basmalah ini memiliki dua maksud, yaitu untuk isti’anah (meminta tolong) kepada Alloh dan bertabaruk (mencari berkah) dari asma Alloh dan sifat-sifat-Nya.  (Penjelasan Ustadz Abu ‘Isa dalam Kajian Al ‘Aqidah Al Wasithiyah di kajian warga Jamilurrohman)</p>
<p>Syaikh ‘Utsaimain berkata : “Memulai dengan basmalah adalah perbuatan yang dilakukan semua penulis, mencontoh kitab Alloh, di mana stiap surat diawali dengan basmalah. Selain itu juga bersandar pada sunnah Rosululloh <em>sholallahu ‘alaihi wa sallam</em>. (Syarah Al ‘Aqidah Al Wasithiyah Syaikh Utsaimin)</p>
<p>Syaikh Sholeh Fauzan berkata : “Penulis memulai dengan basmalah untuk mengikuti kitabulloh dan sunnah Rosululloh yang mengawali tulisan surat beliau dengan basmalah. Telah disebutkan dalam kitab Shahih Bukhori dalam kitab awal turunnya wahyu : “<em>Bismillahirrohaman arrohiim</em>. Dari Muhammad kepada Pembesar Negara Rum, Hiraklius”  (Muttafaqun alaihi).</p>
<p>Adapaun <em>hadist qouliah</em> (perkataan nabi) tentang basmalah dalam sebuah hadist : “Setiap perkara yang tidak dimulai dengan basmalah maka perkara tersebut terputus “, hadist tersebut adalah hadist yang dilemahkan oleh para ulama. (<em>Husuulu Ma’muul</em> hal 9)</p>
<p><strong>Mengapa Penulis Tidak Mencantumkan Muqoddimah?</strong></p>
<p>Tidak seperti kebanyakan buku, dalam kitab ini penulis tidak menuliskan kata pengantar (muqoddimah) . Setidaknya ada tiga alasan mengapa penulis tidak menuliskan muqoddimah (kata pengatantar) tentang kitab beliau ini, yaitu :</p>
<ol>
<li>Karena sudah jelas. Maksudnya dengan membaca judul dari kitab ini sudah dapat diketahui tentang materi/pembahsan kitab ini sehingga penulis tidak perlu mencantumkan muqoddimah dalam kitabnya.</li>
<li>Beradab kepada Alloh Ta’ala. Tauhid adalah hak Alloh Ta’ala. Penulis tidak inigin memisahkan antara hak Alloh dan petunjuk yang menunjukkan kepada hak tersebut.</li>
<li>Mencontoh Imam Bukhori. Dalam Kitab Shahihnya Imam Bukhori tidak memberikan muqoddimah dan langsung memulainya dengan hadist Rosululloh <em>sholallahu ;alaih wa sallam</em>.</li>
</ol>
<p>(Penjelasan Ustadz Abu ‘Isa dlam kajian Kitab Tauhid di kajian warga Jamilrrohman).</p>
<p>Syaikh ‘Utsaimin menjelaskan : “Dalam kitab yang ada pada kami tidak dicantumkan  kata pengantar dari penulis. Bisa jadi sudah dihapus oleh orang yang menghapusnya atau bisa jadi karena penulisnya mencukupkan dengan yang sudah ada, karena judul yang sudah ada merupakan pembahasan/ materi dari isi kitab itu sendiri, yaitu tentang tauhid (<em>Al Qoulul Mufid ‘alaa Kitabi Tauhiid</em> hal 6).</p>
<p>Syaikh Sholeh Alu Syaikh menjelaskan : “ …sebab penulis tidak mencantumkan kata pengantar (muqoddimah), menurut saya, karena masalah tauhd yang akan dijelaskan penulis <em>rohimahulloh</em> dalam kitab beliau ini adalah tauhidullah. Tentang tauhidullah ini Alloh telah menjelaskannya di dalam Al Quran. Oleh karena itu termasuk adab terhadap kedudukan tauhid yaitu tidak menjadikan pemisah antara hak Alloh dan petunjuk  atas hak tersebut, dan firman yang menunjukkan atas hak tersebut. Hak yang merupakan kekhususan Alloh adalah tauhid, dan yang menunjukkan hak tersebut adalah Alloh, dan petunjuk atas hak tersebut adalah firman-Nya dan sabda rosul-Nya. Hal ini dalam rangka memudahkan pengaruh tauhid dalam hati. Model penulisan seperti ini sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Bukhori dalam shahihnya. Beliau tidak memberikan kata pengantar (muqoddimah) dalam kitab tersebut, dan memulai awal kitabnya dengan hadist. Hal ini dilakukan karena kitab yang ditulis oleh beliau adalah kitab hadist. Dan sudah maklum bahwa termasuk adab yaitu tidak mendahului Alloh dan Rosul-Nya, maka beliau tidak mendahulukan perkataan beliau atas sabda Rosululloh sehingga Imam Bukhori membuka kitab beliau dengan sabda Rosululloh “ Innamal a’maalu binniyaat…” …” (<em>At Tamhiid li Syarhi Kitaabit Tauhiid</em> hal 4-5)</p>
<p>Demikianlah pengantar sebelum kita membahas inti dari isi kitab tauhid. Semoga bermanfaat.</p>
<p>Selesai disusun Ahad pagi, 20 Dzulqo’dah 1430 H/8 November 2009.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adikamianoki.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adikamianoki.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adikamianoki.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adikamianoki.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adikamianoki.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adikamianoki.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adikamianoki.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adikamianoki.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adikamianoki.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adikamianoki.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adikamianoki.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adikamianoki.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adikamianoki.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adikamianoki.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adikamianoki.wordpress.com&amp;blog=10042936&amp;post=73&amp;subd=adikamianoki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/11/08/muqoddimah-kitab-tauhid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57a9a8d1898511362e64cb1c5b3ff441?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adikamianoki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Alloh Turun ke Dunia</title>
		<link>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/11/05/alloh-turun-ke-dunia/</link>
		<comments>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/11/05/alloh-turun-ke-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 00:13:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adikamianoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[aqidah muslim sejati]]></category>
		<category><![CDATA[asma' wa shifat]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah wasithiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikamianoki.wordpress.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[ALLOH  YANG MAHA TINGGI TURUN KE LANGIT DUNIA Pembaca yang budiman, salah satu keimanan yang wajib diimani oleh setiap muslim yaitu bahwasanya Alloh Ta’ala turun ke langit dunia. Penetapan  ini diterangkan oleh banyak hadist dari Rosululloh yang mencapai derajat mutawatir (melalui jalur yang banyak). Di antaranya adalah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adikamianoki.wordpress.com&amp;blog=10042936&amp;post=64&amp;subd=adikamianoki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>ALLOH  YANG MAHA TINGGI TURUN KE LANGIT DUNIA</strong></p>
<p>Pembaca yang budiman, salah satu keimanan yang wajib diimani oleh setiap muslim yaitu bahwasanya Alloh Ta’ala turun ke langit dunia. Penetapan  ini diterangkan oleh banyak hadist dari Rosululloh yang mencapai derajat <em>mutawatir</em><em> </em>(melalui jalur yang banyak). Di antaranya adalah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim. Dari Abu Huroiroh, Rosululloh <em>sholallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda : “ <em>Robb kita turun ke langit dunia pada setiap malam pada sepertiga malam yang terakhir, kemudian berfirman : “ Barang siapa berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku akan Aku beri, barang siapa memohon ampun kepadaku akan Aku ampuni</em>” (Muttafaqun ‘alaihi). Hadist ini secara jelas menunjukkan penetapan sifat <em>nuzu</em>l (turunnya) Alloh ke langit dunia.</p>
<p>Makna turunnya Alloh dalam hadist ini adalah turun secara hakiki. Wajib bagi kita mengimaninya  dan membenarkannya. Alloh turun ke langit dunia yang merupakan langit yang paling dekat dengan dunia. Turunnya Alloh adalah sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya “ <em>Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat</em>”, tidak seperti turunnya makhluk. Oleh karena itu kita menetapkan <em>nuzul</em> dari sisi makna dan bukan sisi <em>kaifyah</em> (cara turun) dan kita menetapkannya tanpa <em>tamsil</em> (menyerupakan dengan makhluk) dan turunnya Alloh adalah sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya.</p>
<p><strong>Apakah Alloh Turun dengan Dzatnya?</strong></p>
<p>Muncul perbedaan pendapat di kalangan <em>Ahlussunnah</em> apakah dikatakan Alloh turun dengan Dzat-Nya atau tidak? Mereka berselisih dalam tiga pendapat :</p>
<ol>
<li>Di antara mereka mengatakan Alloh turun      dengan Dzat-Nya , karena perlu mengatakannya agar tidak disalahpahami      bahwa yang turun adalah urusan Alloh atau rahmat Alloh seperti perkataan <em>ahlu ta’thil</em><em> </em>(kelompok yang      menolak nama dan sifat Alloh).</li>
<li>Di antara mereka  tidak mengatakan Alloh turun dengan      Dzat-Nya dan menolak perkataan tersebut. Menurut mereka perkataan Alloh      turun dengan Dzat-Nya ke langit dunia adalah batil dan tertolak.</li>
<li>Di antara mereka mengatakan tidak      memutlakkan kedua-duanya, mereka tidak menetapkan dan juga tidak menolak      perkataan tersebut..</li>
</ol>
<p>Di antara tiga pendapat di atas  pendapat ketigalah yang benar – <em>wallohu a’lam</em>-. Karena kaedah yang benar berdasarkan sunah adalah kita tidak melampaui Al Quran dan Al Al Hadist. Dalam sabda Nabi “Alloh turun“ di dalamnya terdapat penetapan sifat turun, kita tidak mengatakan Alloh turun dengan Dzat-Nya dan tidak mengatakan tidak boleh mengatakan Alloh turun dengan Dzat-Nya, kita tidak menetapkannya dan tidak menafikannya . (Lihat <em>Syarh Aqidah Wasithiyah</em> Syaikh Sholeh Alu Syaikh)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Apakah ‘Arsy Alloh Kosong ketika Alloh Turun?</strong></p>
<p>Telah kita ketahui bersama bahwasanya Alloh Ta’ala <em>istiwa’</em> di atas ‘Arsy-Nya. Ketika Alloh turun ke langit dunia, apakah ‘Arsy Alloh kosong? Para ulama berbeda pendapat menjadi tiga :</p>
<ol>
<li>‘Arsy Alloh tidak kosong. Syaikhul      Islam Ibnu Taimyah berkata dalam <em>Risalah al ‘Arsiyyah</em> : “      Sesungguhnya turunnya Alloh tidak menjadikan ‘Arsy-Nya kosong, karena      dalil yang menunjukkan <em>istiwa’</em>-Nya Alloh di atas ‘Arsy adalah dalil      yang <em>muhkam</em> (umum) , demikian pula hadist ini juga <em>muhkam</em>,      dan sifat Alloh tidaklah sama dengan sifat makhluk, maka wajib bagi kita      membiarkan dalil <em>istiwa’</em> dalam kemuhkamannya dan dalil <em>nuzul</em> dalam kemuhkamannya, dan kita katakan Alloh bersemayam di atas ‘Ars-Nya      dan Alloh turun ke langit dunia, Alloh lebih tahu tentang kaifiyah      tersebut sementara akal kita terbatas untuk melliputi Alloh Ta’ala”</li>
<li><em>Tawakuf</em>.      Mereka tidak mengatakan ‘Arsy Alloh kosong dan tidak mengatakan tidak      kosong.</li>
<li>Turun-Nya Alloh menjadikan ‘arsy-Nya      kosong.</li>
</ol>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholeh al ‘Utsaimin <em>rohimahulloh</em> menjelaskan : “ Tidak ada hak bagi kita berbicara apakah ketika Alloh turun ‘Arsy-Nya kosong atau tidak kosong, hendaknya kita diam sebagaimana para sahabat <em>rodhiyallohu ‘anhum</em> diam (tidak membahas) masalah ini. (Lihat  <em>Syarh Aqidah Wasithiyah</em> Syaikh Muhammad bin Sholeh al ‘Utsaimin).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Beberapa Kesalahan Makna <em>Nuzul</em> dan Bantahannya</strong></p>
<p>Sudah menjadi kebiasaan <em>ahlul bid’ah</em> bahwasanya mereka akan menyelewengkan sifat-sifat Alloh yang tidak mereka imani, termasuk sifat <em>nuzul</em> ini. Mereka menyelewengkan makna <em>nuzul</em> dan memaksudkan makna <em>nuzul</em> bukan dengan makna yang hakiki, di antaranya :</p>
<ol>
<li>Yang turun adalah <em>amr</em> (urusan)      yang Alloh tetapkan, ini adalah makna yang batil. Karena turunnya urusan      Alloh akan senantiasa ada pada setiap waktu, tidak khusus pada sepertiga      malam terakhir saja . Alloh Ta’ala berfirman :</li>
</ol>
<p>يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ</p>
<p>Artinya : ” Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya (As Sajadah :5)</p>
<p>وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الأَمْرُ كُلُّهُ</p>
<p>Artinya : “Dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya” (Huud: 123)</p>
<ol>
<li>Yang turun adalah rahmat Alloh Ta’ala      ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. <em>Subhanalloh</em>! Rahmat      Alloh tidak turun kecuali hanya pada waktu itu saja?! Padahal Alloh      berfirman :</li>
</ol>
<p>وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ</p>
<p>Artinya : “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)” (An Nahl : 53). Sedangkan seluruh nikmat Alloh merupakan buah dari rahmat Alloh dan itu turun pada setiap waktu. Selain itu jika yang turun adalah rahmat Alloh, apa faedahnya dengan turunnya rahmat Alloh hanya sampai ke langit dunia???</p>
<ol>
<li>Yang turun adalah malaikat Alloh.  Ini juga makna yang batil! Jika yang      turun adalah malaikat, apakah masuk akal malaikat berkata : “barang siapa      yang berdoa kepadaku akan Aku kabulkan, barang siapa meminta kepadaku akan      Aku beri, barang siapa memohon ampun kepadaku akan Aku ampuni?”. Dengan      ini jelaslah kebatilan perkataan mereka.</li>
</ol>
<p>Inilah beberapa kesalahan makna <em>nuzul</em> yang diselewengkan oleh <em>ahlul bid’ah</em>. Padahal demi Alloh, mereka tidaklah lebih mengetahui tentang Alloh daripada Rosululloh, mereka juga tidaklah lebih baik niatnya terhadap umat manusia daripada Rosululloh, mereka juga tidaklah lebih fasih dalam perkataan mereka daripada Rosululloh. Dan pemahaman seperti itu tidak pernah ada dalam pemahaman para sahabat <em>rodhiyallohu ‘anhum</em> (Lihat  <em>Syarh Aqidah Wasithiyah</em> Syaikh Muhammad bin Sholeh al ‘Utsaimin).</p>
<p><strong>Menjawab Kerancuan</strong></p>
<p>Jika ada yang mengatakan : “Mengapa engkau katakan Alloh turun? Jika Alloh turun, bagaimana dengan ke-Mahatinggian Alloh ? Jika Alloh turun, bagaimana dengan <em>istiwa’</em>-Nya Alloh di atas ‘arsy? Jika Alloh turun, turun adalah bergerak dan berpindah!! Jika Alloh turun, turun adalah <em>haadist</em> (sesuatu yang baru), dan sesuatu yang baru tidak terjadi kecuali dengan sesuatu yang baru pula?”</p>
<p>Kita katakan ini adalah perdebatan yang batil!! Dan itu semua tidak bertentangan dengan hakikat turun-Nya Alloh. Apakah kalian lebih tahu tentang hakikat turun-Nya Alloh  daripada sahabat Rosululloh?. Para sahabat tidak pernah mengatakan kemungkinan-kemungkinan seperti yang kalian katakan sama sekali. Mereka semua (para sahabat) mengatakan. : kami mendengar, kami beriman, kami menerima, dan kami membenarkan. Sedangkan <em>ahlu ta’thil</em> mereka memperdebatkan dengan perdebatan yang batil dengan bertanya mengapa begini, mengapa begitu. Kita katakan Alloh Ta’ala turun dan kita tidak berbicara tentang apakah ‘<em>arsy</em> Alloh kosong atau tidak. Adapun sifat ke-Maha Tinggian Alloh, kita katakan bahwa Alloh turun akan tetapi Alloh di atas para makhluk-Nya, karena bukanlah makna turun-Nya Alloh diliputi dan dinaungi langit, karena tidak ada satu makhluk pun yang dapat meliputi Alloh Ta’ala.</p>
<p>Lain lagi dengan pertanyaan orang-orang sekarang. Mereka mempertentangkan masalah ini dengan pengetahuan bahwa bumi ini bulat. Mereka mengatakan bagaimana mungkin Alloh turun ke langit dunia di sepertiga malam terakhir? Sepertiga malam jika berpindah dari satu tempat akan terjadi di tempat di dekatnya dan seterusnya sesuai arah berputarnya bumi. Jika demikian, Alloh akan selalu turun ke langit dunia  karena akan ada dalam setiap waktu bagian bumi yang mengalami sepertiga malam?</p>
<p>Kita katakan bahwa kita beriman Alloh turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. Jika kita sudah beriman dengan yakin, tidak ada lagi keraguan sedikit pun di balik keyakinan tersebut. Kita tidak perlu dan tidak pantas bertanya bagaimana dan mengapa. Bahkan kewajiban kita beriman jika sepertiga malam terjadi di satu daerah, maka ketika itu pula Alloh Ta’ala turun, jika sepertiga malam terakhir terjadi di daerah lain, maka ketika itu pula Alloh turun di daerah tersebut. Jika telah terbit fajar di daerah tersebut maka berakhir sudah waktu turun-Nya Alloh di daerah tersebut. (Lihat  <em>Syarh Aqidah Wasithiyah</em> Syaikh Muhammad bin Sholeh al ‘Utsaimin).</p>
<p><strong>Kesimpulan </strong></p>
<p>Saudaraku, sekali lagi perlu ditekankan bahwa kewajiban kita adalah beriman terhadap sifat-sifat Alloh yang telah ditetapkan oleh Alloh Ta’ala dan Rosul-Nya tanpa menyelewengkan dari maknanya yang hakiki. Demikian pula sifat <em>nuzul</em>, wajib kita beriman bahwa Alloh Ta’ala turun ke langit dunia secara hakiki pada sepertiga malam terakhir. Dan pada saat turun, Alloh akan mengabulkan orang yang berdoa, akan memberi orang yang meminta, dan akan mengampuni orang yang memohon ampun. Tidak selayaknya seorang muslim melewatkan waktu yang sangat berharga ini. Inilah buah keimanan yang benar terhadap sifat turun-Nya Alloh Ta’ala. Semoga Alloh menjadikan kita termasuk orang-orang yang bisa memanfaatkan waktu yang mulia ini. <em>Wallohu a’lam.</em></p>
<p><em>Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahibihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin</em><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>(Selesai diedit ulang di rumah tercinta, Bantul, 22.00 WIB, 4 Dzulqo’dah 1430H/23 Oktober 2009)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adikamianoki.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adikamianoki.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adikamianoki.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adikamianoki.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adikamianoki.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adikamianoki.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adikamianoki.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adikamianoki.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adikamianoki.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adikamianoki.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adikamianoki.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adikamianoki.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adikamianoki.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adikamianoki.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adikamianoki.wordpress.com&amp;blog=10042936&amp;post=64&amp;subd=adikamianoki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/11/05/alloh-turun-ke-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57a9a8d1898511362e64cb1c5b3ff441?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adikamianoki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Biografi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab</title>
		<link>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/11/05/kitab-tauhid/</link>
		<comments>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/11/05/kitab-tauhid/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 23:51:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adikamianoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[kitab tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikamianoki.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[BIOGRAFI PENULIS KITAB Pepatah mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Ada baiknya sebelum kita membahas kitab tauhid ini kita mengenal dulu penulisnya. Dengan mengetahui kredibilitas dan kapabilitas penulisnya tentu akan menambah yakin bagi kita tentang kualitas tulisannya. Kitab ini ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rohimahulloh-. Sebagian kaum muslimin fobia terhadap nama ini. Mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adikamianoki.wordpress.com&amp;blog=10042936&amp;post=55&amp;subd=adikamianoki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BIOGRAFI PENULIS KITAB</strong></p>
<p>Pepatah mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Ada baiknya sebelum kita membahas kitab tauhid ini kita mengenal dulu penulisnya. Dengan mengetahui kredibilitas dan kapabilitas penulisnya tentu akan menambah yakin bagi kita tentang kualitas tulisannya.</p>
<p>Kitab ini ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –<em>rohimahulloh</em>-. Sebagian kaum muslimin fobia terhadap nama ini. Mereka manjuluki pengikut ajaran beliau sebagai<em> wahhabi</em> dan mengecapnya sebagai kelompok yang menyimpang, tidak mencintai nabi, tidak menghormati orang sholeh, dan tuduhan-tuduhan lainnya. Siapa sebenarnya beliau? Mari sedikit kita mengetahui tentang biografi beliau sehingga menjadi  jelaslah permasalahanya. Tulisan ini kami ambil dari Syarah Tsalatsatul Ushul Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin dengan perubahan dan tambahan seperlunya.</p>
<p><strong>Nama dan Nasab Beliau</strong></p>
<p>Beliau adalah Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad  bin Ahmad bin Rasyid bin Muhammad bin Musyrif bin Umar, dari Bani Tamim.</p>
<p><strong>Kelahiran Beliau</strong></p>
<p>Beliau lahir di ‘Uyainah pada tahun 1115 Hijriyah, di sebuah keluarga yang terpandang di bidang ilmu, martabat, dan agama. Ayah beliau seorang ulama besar. Sedangkan kakeknya, yaitu Sulaiman, adalah seorang ulama Najed di zamannya.</p>
<p><strong>Masa Pertumbuhan Beliau</strong></p>
<p>Beliau hafal Al quran sebelum genap berumur 10 tahun. Beliau belajar fiqih sehingga memiliki wawasan fiqih yang luas. Ayah beliau mengagumi kekuatan hafalan beliau. Beliau banyak membaca kitab tafsir atau hadist, serta bersungguh-sungguh mencari ilmu pada siang dan malam. Beliau menghafal matan-matan ilmiah dalam berbagai bidang ilmu. Beliau mengadakan perjalanan untuk menuntut ilmu ke Madinah dan belajar kepada para ulama di sana. Di antara guru beliau adalah Syaikh Abdulloh bin Ibrahim Asy-Syammari, putranya yang terkenal Ibrahim Asy-Syammari, penulis kitab <em>Al ‘Adzbul Faidh fii Syarhi Aifiyatil Faraidh</em>. Kedua ulama ini mengenalkan beliau kepada seorang ahli hadist yang terkenal, yaitu Muhammad Hayah As Sindi, kemudian beliau belajar ilmu hadist dan rijalul hadist kepadanya, serta mendapat ijazah darinya untuk mengajarkan kitab-kitab induk.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dikaruniai Alloh pemahaman yang tajam dan kecerdasan yang luar biasa. Beliau tekun membaca, mengkaji, dan menulis. Banyak ilmu yang melekat di otak beliau selama beliau membaca dan mengkaji. Beliau tidak pernah bosan menulis, bahkan beliau banyak menyalin tulisan-tulisan Ibnu Taimiyah dan Ibnu Ooyyim –<em>rohimahalloh</em>- . Beberapa manuskrip berharga yang ditulis dengan pena beliau, tersimpan di beberapa museum. Setelah ayah beliau wafat pada tahun 1153 H, beliau secara terang-terangan mengenalkan dakwah <em>salafiyah</em> yang mengajak kepada tauhid, mengingkari  kemungkaran, dan menyerang para pelaku bid’ah dari klaangan penyembah berhala (karena itulah beliau dibenci dan mendapat gelar-gelar buruk dari ahlul bid’ah dan pelaku kesyirikan). Beliau mendapat dukungan dari keluarga Raja Saud, sehingga kekuatan beliau menjadi kokoh dan dakwahnya tersebar luas.</p>
<p><strong>Tulisan-tulisan Beliau</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mempunyai banyak karya tulis yang bermanfaat. Di antara karya beliau yaitu :</p>
<ol>
<li>Kitabut Tauhid</li>
<li>Kitab Kasyfusy Syubuhaat</li>
<li>Kitab Al Kabair</li>
<li>Kitab Tsalatsarul Ushul</li>
<li>Kitab Mukhtashorul Inshaf wa Syarh Al Kabair</li>
<li>Kitab Mukhtashor Zadul Ma’ad</li>
<li>Beliau juga mempunyai fatwa-fatwa dan makalah yang dihimpun dan diberi judul “Majmu’ah Mualaf Al Iman Muhammad bin Abdul Wahhab yang disusun di bawah koordinasi Universitas Imam Muhammad bin Saud.</li>
</ol>
<p><strong>Wafat Beliau</strong></p>
<p>Beliau wafat pada tahun 1206 H, semoga Alloh memberikan limpahan rahmat  kepada beliau dan memberikan balasan yang sebaik-baiknya kepada beliau atas jasa beliau kepada Islam dan kaum muslimin. Sesungguhnya, Dia Maha Mendengar dan Mengabulkan</p>
<p>Demikianlah sedikit data biografi penulis kitab tauhid ini. Seorang ulama yang tekun menuntut ilmu, ,menghabiskan hidupnya untuk belajar dan mendakwahkan<em> al haq</em> baik dengan lisan maupun tulisan, serta mengabdikan dirinya untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin. Dengan mengenal beliau yang sebenarnya, kita tidak ragu  lagi untuk menelaah kitab yang beliau susun, yaitu kitab tauhid ini. Sungguh sangat kotor mulut orang-orang yang mencela dan menuduh beliau dengan gelaran yang buruk ..Hanya kepada Alloh kita memohon pertolongan. Semoga bermanfaat.</p>
<p>Dituilis menjelang subuh, 9 Dzulqo’dah 1430 H/28 Oktober 2009</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adikamianoki.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adikamianoki.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adikamianoki.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adikamianoki.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adikamianoki.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adikamianoki.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adikamianoki.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adikamianoki.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adikamianoki.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adikamianoki.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adikamianoki.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adikamianoki.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adikamianoki.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adikamianoki.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adikamianoki.wordpress.com&amp;blog=10042936&amp;post=55&amp;subd=adikamianoki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/11/05/kitab-tauhid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57a9a8d1898511362e64cb1c5b3ff441?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adikamianoki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bersabarlah!</title>
		<link>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/11/05/alloh-yang-maha-tinggi-turun-ke-langit-dunia/</link>
		<comments>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/11/05/alloh-yang-maha-tinggi-turun-ke-langit-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 23:00:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adikamianoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[asma' wa shifat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikamianoki.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Bersabarlah! Kehidupan seseorang di dunia ini tidak pernah terlepas dari dua keadaan, keadaan mendapatkan kenikmatan ataupun keadaan mendapatkan musibah. Kewajiban seorang muslim adalah bersyukur ketika mendapatkan kenikmatan dan bersabar ketika mendapatkan musibah. Inilah keadaan yang hanya dimiliki oleh muslim sejati, bagaimanapun keadaan yang dialaminya, dia selalu dalam kebaikan dan tetap masih bisa menuai pahala. Bersabar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adikamianoki.wordpress.com&amp;blog=10042936&amp;post=11&amp;subd=adikamianoki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bersabarlah!</strong></p>
<p>Kehidupan seseorang di dunia ini tidak pernah terlepas dari dua keadaan, keadaan mendapatkan kenikmatan ataupun keadaan mendapatkan musibah. Kewajiban seorang muslim adalah bersyukur ketika mendapatkan kenikmatan dan bersabar ketika mendapatkan musibah. Inilah keadaan yang hanya dimiliki oleh muslim sejati, bagaimanapun keadaan yang dialaminya, dia selalu dalam kebaikan dan tetap masih bisa menuai pahala. Bersabar bagi seorang muslim adalah suatu keharusan, karena inilah yang diperintahkan ketika seorang muslim menghadapi musibah. Sabar merupakan kewajiban bagi seorang muslim berdasarkan Al Quran, As Sunnah, Ijma’, dan juga akal yang sehat.</p>
<p><strong>Hadits Tentang Sabar</strong></p>
<p>Di antara hadits Rasulullah yang menunjukkan kewajiban bagi seorang muslim untuk bersabar adalah hadits berikut.</p>
<p>Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dia berkata: “Rasulullah melewati seorang wanita yang sedang menangis di samping sebuah kubur, kemudian beliau bersabda: ‘Bertakwalah kepada Alloh dan bersabarlah!’ Kemudian wanita itu berkata: ‘Menjauhlah dariku! Sesungguhnya engkau tidak mengetahui musibah yang aku alami.’ Wanita tersebut tidak mengetahui siapa yang berbicara tadi. Kemudian ada yang berkata kepadanya: ‘Dia adalah Nabi.’ Kemudian wanita tersebut mendatangi rumah nabi dan tidak mendapatkan penjaga di rumah nabi, kemudian berkata, ‘Aku tidak mengetahui bahwa engkau adalah nabi.’ Rasulullah bersabda: ‘Sabar itu hanyalah pada saat tertimpa musibah yang pertama kali.’” (Muttafaqun ‘alaihi). Dan dalam riwayat Muslim, “Menangis atas kematian anaknya.” (HR. Bukhori 1283 dan Muslim Muslim 926)</p>
<p><strong>Penjelasan Global Makna Hadist</strong></p>
<p>Dari Anas <em>rodhiallahu ‘anhu</em> bahwasanya nabi melewati seorang wanita yang berada di samping kuburan anak kecil yang telah meninggal. Wanita ini sangat mencintainya sehingga tidak mampu menahan diri untuk tidak menangis. Ketika Rasulullah melihatnya beliau memerintahkan wanita tersebut untuk bertakwa kepada Allah dan bersabar. Rasulullah bersabda kepada wanita tersebut: “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah!” Kemudian wanita tersebut berkata: ”Menjauhlah dariku! Sesungguhnya engkau tidak mengalami musibah seperti yang aku alami.” Hal ini menunjukkan terkadang musibah menimpa seseorang dengan cobaan yang berat. Kemudian nabi meninggalkan wanita tersebut.</p>
<p>Kemudian dikatakan kepada wanita tersebut bahwasanya yang berbicara kepadanya tadi adalah Rasulullah. Wanita tersebut menyesal kemudian menemui Rasulullah dan tidak ada seorang pun yang menghalanginya untuk masuk ke rumah beliau. Kemudian wanita tersebut bercerita dan mengatakan, “Sesungguhnya aku tidak mengetahui kalau engkau adalah Rasulullah.” Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang disebut sabar itu hanyalah pada saat tertimpa musibah yang pertama kali.” Sabar yang berpahala adalah sabar pada saat pertama kali musibah menimpa dirinya. Inilah hakikat sabar.</p>
<p><strong>Pengertian dan Macam-Macam Sabar</strong></p>
<p>Sabar secara bahasa berarti menahan. Secara istilah syar’i yaitu menahan jiwa dari tiga perkara: dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, dari meninggalkan hal-hal yang diharamkan Allah, dan dalam menerima takdir yang telah ditetapkan Allah. Seseorang harus sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah karena terkadang ketaatan menimbulkan keberatan dalam jiwa sehingga seseorang menjadi sulit dalam melaksanakannya. Terkadang ketaatan juga berat bagi badan sehingga menimbulkan kelelahan. Demikian juga dalam melakukan ketaatan menimbulkan kesusahan berupa harta seperi pada saat melaksanakan zakat dan haji.</p>
<p>Sabar dalam meninggalkan segala sesuatu yang Allah haramkan yaitu seseorang menahan diri dari segala sesuatu yang Allah haramkan karena nafsu yang jelek selalu mengajak kepada kejelekan, sehingga seseorang harus bisa menahan jiwanya. Seseorang tatkala menahan jiwa dan nafsunya dari melaksanakan kemaksiatan sehingga dia tidak melaksanakannya membutuhkan kesabaran</p>
<p>Seseorang juga harus sabar dalam menghadapi takdir Allah yang buruk, baik berupa ujian fisik, harta, keluarga, dan lain-lain, maka dibutuhkan kesabaran. Dia harus bersabar dari menampakkan kegelisahan dengan lisan, hati, maupun anggota badannya. (Lihat Syarah Riyaadhis Shoolihiin, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin).</p>
<p><strong>Tingkatan Dalam Menghadapi Musibah</strong></p>
<p>Seseorang berbeda-beda sikapnya tatkala menghadapi musibah. Keadaan manusia dalam menghadapi musibah terbagi dalam empat golongan:</p>
<p>1. Marah</p>
<p>Keadaan ini adalah keadaan orang-orang yang marah dalam menghadapi musibah, baik marah dengan hatinya, dengan lisannya, atau dengan anggota badannya. Marah dalam hatinya, misalnya dia marah dan benci kepada Allah dan merasa seolah-olah Allah menzaliminya dengan musibah tersebut. Marah dengan lisannya, misalnya dengan berdoa dengan kecelakaan. Marah dengan anggota badan, misalnya dengan menampar pipi dan kepala, menjambak rambut, dan merobek pakaian, dan yang semisalnya. Marah dalam menghadapi musibah ini adalah haram karena menyelisihi sabar yang diwajibkan. Ini adalah keadaannya orang-orang yang celaka yang tidak mendapatkan balasan dari musibah yang dialaminya, bahkan dia mendapatkan dosa. Maka orang seperti ini dia mendapatkan dua musibah sekaligus, musibah dalam agamanya berupa murka Allah dan musibah dunia yang dialaminya.</p>
<p>2. Sabar</p>
<p>Keadaan ini adalah keadaan bersabar dalam menghadapi musibah dengan menahan nafsunya. Dia benci dan tidak suka dengan musibah yang terjadi, akan tetapi dia menahan nafsunya dari berkata-kata yang menimbulkan murka Allah, melakukan perbuatan yang mendatangkan azab Allah, dan tidak ada dalam hatinya kebencian terhadap Allah. Dia bersabar, akan tetapi dia tidak suka musibah tersebut menimpa dirinya. Bersabar adalah wajib karena Allah dan Rasul-Nya telah memerintahkan untuk bersabar. Allah berfirman,</p>
<p>وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ</p>
<p>“Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al Anfal: 46)</p>
<p>3. Ridho</p>
<p>Pada keadaan ini seseorang ridho dan merasa lapang dada dengan musibah yang dialaminya. Ia benar-benar ridho seolah-olah musibah tersebut tidak menimpanya. Ridho ketika menghadapi musibah hukumnya adalah sunnah.</p>
<p>4. Syukur</p>
<p>Keadaan terakhir adalah seseorang bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpa dirinya. Rasulullah apabila melihat sesuatu yang beliau tidak suka beliau mengucapkan “Alhamdulillahi ‘ala kulli haal.” (Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan). Bersyukur kepada Allah karena Allah memberinya pahala atas musibah yang dia alami lebih besar daripada musibah yang dia rasakan. Tingkatan ini adalah tingkat yang paling tinggi, karena dia bersyukur kepada Allah terhadap musibah yang menimpanya. Karena dia tahu, bahwa musibah ini merupakan sebab ditutupnya kejelekan-kejelekannya dan barangkali untuk menambah kebaikan-kebaikannya. Nabi bersabda yang artinya, “Tidak ada satu musibah pun yang menimpa seorang muslim kecuali Allah akan menutupi dosa dengannya, meski sekedar duri yang menusuknya.“ (Muttafaqun ‘alaihi). (Lihat Syarah Riyaadhis Shoolihiin dan Majmu’ Fatawa, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin).</p>
<p><strong>Untaian Hikmah Hadits</strong></p>
<p>Hadits di atas memilki beberapa pesan di antaranya:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, betapa bagus akhlak Rasulullah dan cara beliau dalam mendakwahkan kebaikan. Hal ini dapat kita lihat ketika beliau melihat seorang wanita yang sedang menangis di samping kubur, beliau memerintahkannya untuk bertakwa kepada Allah dan bersabar. Tatkala wanita tersebut berkata, “Menjauhlah dariku!” Rasulullah tidak marah kepadanya, tidak memaksanya, dan tidak memperlakukannya dengan keras karena beliau mengetahui bahwa dia tidak mampu mengontrol dirinya karena kesedihan yang menimpanya. Oleh karena itu ia keluar rumah dan menangis di samping kubur.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, seseorang itu dimaafkan karena dia tidak tahu, baik tidak tahu hukum syar’i maupun jahil terhadap keadaan yang sebenarnya. Ketika wanita tersebut berkata kepada Rasulullah: “Menjauhlah dariku!” padahal Rasulullah memerintahkannya dengan kebaikan, bertakwa, dan bersabar. Akan tetapi wanita tersebut tidak mengetahui kalau lawan bicaranya adalah Rasulullah, maka Rasulullah memaafkannya. Hal ini menunjukkan tawadhu’nya Nabi dan sikap beliau yang lemah lembut terhadap orang yang tidak tahu.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, menangis di sisi kubur menunjukkan sikap tidak sabar ketika menghadapi musibah karena Rasulullah bersabda kepada wanita yang menangis di samping kubur: “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah!”</p>
<p><strong>Keempat</strong>, sabar terpuji adalah bersabar ketika pertama kali mendapatkan musibah, bukan setelah terlewatinya musibah. Hal ini karena jika telah lewat waktu terjadinya musibah, maka musibah pun juga akan terlupakan, dan bersabar pada saat itu tidak bermanfaat.</p>
<p><strong>Kelima</strong>, tidak sepantasnya bagi seorang yang mempunyai kepentingan bagi kaum muslimin menjadikan di rumahnya pengawal yang menghalangi manusia yang membutuhkannya untuk menemuinya.</p>
<p><strong>Keenam</strong>, seseorang yang diperintahkan dengan kebaikan hendaknya menerima dengan baik dan tunduk kepada kebenaran walaupun dia tidak mengetahui siapa yang memerintahnya. (Lihat Syarah Riyaadhis Shoolihiin oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, dan Bahjatun Naadzirin Syarah Riyaadhis Shoolihin oleh Syaikh Salim Bin ‘Ied Al Hilaly).</p>
<p>Semoga kita diberi kekuatan oleh Allah untuk senantiasa bersabar di dunia ini, baik ketika melaksanakan ketaatan, menghindari maksiat, dan menghadapi musibah. <em>Wallohul musta’aan.</em></p>
<p>Diedit ulang Kamis pagi 17  Dzulqo’dah 1430 H/5 November 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adikamianoki.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adikamianoki.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adikamianoki.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adikamianoki.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adikamianoki.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adikamianoki.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adikamianoki.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adikamianoki.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adikamianoki.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adikamianoki.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adikamianoki.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adikamianoki.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adikamianoki.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adikamianoki.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adikamianoki.wordpress.com&amp;blog=10042936&amp;post=11&amp;subd=adikamianoki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/11/05/alloh-yang-maha-tinggi-turun-ke-langit-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57a9a8d1898511362e64cb1c5b3ff441?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adikamianoki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>kitab tauhid</title>
		<link>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/11/05/kitab-tauhid-2/</link>
		<comments>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/11/05/kitab-tauhid-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 22:16:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adikamianoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[kitab tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid uluhiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikamianoki.wordpress.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[PENGANTAR PENULIS KITAB TAUHID, sebuah karya monumental karya Syaikh Muhammad At Tamimi –rohimahulloh-, sebuah kitab yang banyak mendapatkan pujian baik oleh kawan maupun lawan. Kitab yang banyak disanjung oleh para ulama. Tidak ada pesantren islam yang menisbatkan kepada dakwah ahlus sunnah wal jama’ah kecuali pasti membahas kitab ini. Tidak ketinggalan para ulama pun membahas dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adikamianoki.wordpress.com&amp;blog=10042936&amp;post=67&amp;subd=adikamianoki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PENGANTAR PENULIS</strong></p>
<p>KITAB TAUHID, sebuah karya monumental karya Syaikh Muhammad At Tamimi –<em>rohimahulloh</em>-, sebuah kitab yang banyak mendapatkan pujian baik oleh kawan maupun lawan. Kitab yang banyak disanjung oleh para ulama. Tidak ada pesantren islam yang menisbatkan kepada dakwah <em>ahlus sunnah wal jama’ah</em> kecuali pasti membahas kitab ini. Tidak ketinggalan para ulama pun membahas dan mengulang-ulang kitab ini  (diantaranya adalah Syaikh Sholeh ‘Alu Syaikh, Syaikh ‘Utsaimn, dll).</p>
<p>Pada kesempatan selanjutnya, insyaAlloh kita kan membahsa kitab ini, mempelajari bab demi bab. Materi yang kami sampaikan banyak mengambil faedah dari kajian kitab Tauhid yang diajarkan oleh ustadz kami Abu ‘Isa ‘Abdulloh bin Salam -<em> hafidzahulloh</em>-. Penulis berkeempatan untuk berguru langsung kepada beliau bersama beberapa ikhwahpada tahun 2004-2005 menyelesaikan kitab <em>Al Jadiid fii Syarhi Kitabi Tauhiid</em> karangan  Syaikh Muhammad bin ‘Abdil ‘Aziiz Sulaiman Al Qor’awi <em>-hafidzahulloh-</em>, juga dari dauroh-dauroh kitab tauhid yang pernah diadakan di Masjid Pogung Raya pada saat liburan semester. Penulis juga berkesempatan untuk mengulang kembali pelajaran kitab tauhid bersama beliau di kajian warga Jamilurrohman membahas kitab <em>Al Mulakhos fii Syarhi Kitabi Tauhiid</em> karangan Syaikh Sholeh Fauzan <em>–hafidzahulloh-. </em>Dalam menyusun tulisan ini, kami juga merujuk ke kitab-kitab syarah yang ditulis oleh para ulama terhadap kitab tauhid dan kitab-kitab lain yang relevan dengan pembahasan yang sedang dibahas.</p>
<p>Para pembaca yang budiman, tidak diragukan lagi bahwa kitab tauhid karya Syaikh Muhammad At Tamimi memiliki keistimewaan, diantaranya :</p>
<ol>
<li>Penulisnya adalah Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab At Tamimi <em>–rohimahulloh-</em>, seorang <em>mujaddid</em> dan imam dakwah di zamanya.</li>
<li>Kitab ini berlandaskan Al Quran dan As Sunnah di atas pemahaman salafus sholeh.</li>
<li>Kitab ini merupakan kitab yang paling bagus yanag membahas tentang permasalahan tauhid</li>
<li>Kitab ini memuat hampir semua permasalahan tauhid.</li>
<li>Kitab ini merupakan kitab dakwah, karena ditulis berdasarkan kebutuhan manusia terhadap dakwah tauhid.</li>
<li>Kitab in mneyerupai Shahih Bukhori dalam metode penyusunan kitab.</li>
<li>Kitab ini diterima oleh seluruh umat, sejak pada zaman penulisnya sampai sekarang, kecuali oleh orang-orang yang menyelisishi jalannya orang mukmin.</li>
<li>Pembahasan dalam kitab ini merupakan pemabhasan yang paling agung, yaitu tentang tauhid.</li>
</ol>
<p>(Penjelasan Ustadz Abu ‘Isa <em>–hafidzahulloh-</em> dalam kajian warga Jamilurrohman).</p>
<p>Syaikh Sholeh ‘Alu Syaikh <em>–hafidzahulloh- </em>menjelaskan :” Kitab Tauhid merupakan kitab yang sangat agung, ulama ahli tauhid bersepakat bahwa belum ada kitab yanag membahas permasalahan tauhid semisal kitab ini. Kitab ini merupakan satu kitab yang tidak ada duanya dalam bab tauhid. Belum pernah disusun kitab yang seperti ini karena penulisnya menempuh metode dalam penulisan kitab ini dengan menjelaskan permasalahan tentang tauhid ibadah dan segala sesuatu yang berlawanan dengan tauhid tersebut, baik yang berlawanan dengan asasnya ataupun yang menyeslisihi kesempurnaannya. Keistimewaan kitab in adalah penyusunan bab-bab tauhid ibadah secara terpisah serta adanya pemisahan, pembuatan urutan, serta pembuatan bab tentang permasalahan tauhid.. Belum pernah terdapat ulama sebelumnya yang membuat hal tersebut. Kebutuhan penuntut ilmu terhadap kitab ini dan mengetahui maknanya sangat penting karena di dalamnya terkandung  ayat, hadist, dan faedah-faedah ( <em>At Tamhiid li Syarhi Kitabi Tauhiid</em>)</p>
<p>Syaikh ‘Abdurrohman bin Hasan Alu Syaikh <em>–rohimahulloh- </em>mengatakan : “Kitab Tauhid yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab – semoga Alloh membalasnya dengan pahala dan mengampuninya serta orang-orang yang menerima dakwah beliau sampai <em>yaumul hisab</em>- mengandung makna-makna yang indah tentang penjabaran tauhid dengan penjelasanya,. Penulisnya telah mengumpulkan dalil-dalil untuk menjelaskannya, sehingga dapat menjadi ilmu bagi orang-orang yang bertauhid dan hujjah terhadap orang-orang yang menyimpang dari tauhid. Banyak orang yang mengambil manfaat dari kitab beliau ini. (<em>Fathul Majiid</em>).</p>
<p>Semoga Alloh Ta’ala memudahkan kami untuk menulis penjelasan tentang kitab tauhid yang kami ambil dari penjelasan para ulama dan bimbingan dari guru-guru kami.</p>
<p>Ponpes Jamilurrohman, Jumat tengah malam, 4 Dzulqo’dah 1430 H/23 Oktober 2009.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adikamianoki.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adikamianoki.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adikamianoki.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adikamianoki.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adikamianoki.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adikamianoki.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adikamianoki.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adikamianoki.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adikamianoki.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adikamianoki.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adikamianoki.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adikamianoki.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adikamianoki.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adikamianoki.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adikamianoki.wordpress.com&amp;blog=10042936&amp;post=67&amp;subd=adikamianoki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/11/05/kitab-tauhid-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57a9a8d1898511362e64cb1c5b3ff441?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adikamianoki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berhenti Merokok?</title>
		<link>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/10/25/berhenti-merokok/</link>
		<comments>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/10/25/berhenti-merokok/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 04:17:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adikamianoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah wasithiyah]]></category>
		<category><![CDATA[rokok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adikamianoki.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Kapan Mau Berhenti Merokok? Apakah anda termasuk penggemar rokok? Baiklah, sebelum anda merogoh saku anda dan mengambil uang untuk membeli rokok marilah kita berbicara barang sejenak dengan akal yang jernih dan pikiran yang tenang mengenai hal ini. Jangan sampai anda melakukan sesuatu yang justru membahayakan diri anda dan juga orang-orang di sekitar anda. Berbicara soal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adikamianoki.wordpress.com&amp;blog=10042936&amp;post=35&amp;subd=adikamianoki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Kapan Mau Berhenti Merokok?</p>
<p>Apakah anda termasuk penggemar rokok? Baiklah, sebelum anda merogoh saku anda dan mengambil uang untuk membeli rokok marilah kita berbicara barang sejenak dengan akal yang jernih dan pikiran yang tenang mengenai hal ini. Jangan sampai anda melakukan sesuatu yang justru membahayakan diri anda dan juga orang-orang di sekitar anda.<br />
Berbicara soal rokok, ada beberapa hal yang perlu kita pikirkan:</p>
<p><strong>Pertama: Merokok itu tidak penting</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Salah satu tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan segala sesuatu yang tidak penting baginya.”</em> (HR. Tirmidzi [2239] dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em>, disahihkan al-Albani dalam <em>Shahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi</em> [2317] as-Syamilah). Syaikh as-Sa’di <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Kesimpulan tersirat dari hadits ini adalah orang yang tidak meninggalkan perkara yang tidak penting baginya adalah orang yang jelek keislamannya.” (<em>ad-Durrah as-Salafiyah</em>, hal. 116).</p>
<p>Diriwayatkan dari Hasan al-Bashri <em>rahimahullah</em>, beliau mengatakan, “Salah satu tanda Allah telah berpaling meninggalkan seorang hamba adalah ketika Allah menjadikan dia sibuk dalam hal-hal yang tidak penting baginya.” (<em>ad-Durrah as-Salafiyah</em>, hal. 115).</p>
<p>Menjaga kesehatan merupakan perkara penting bagi setiap muslim. Orang yang dengan sengaja merusak kesehatannya telah melakukan sesuatu yang tidak penting dan bahkan menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan. Padahal, Allah ta’ala berfirman (yang artinya), <em>“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”</em> (Qs. al-Baqarah: 195)</p>
<p>Di sisi lain, orang yang merusak kesehatannya sendiri, maka dia telah menyia-nyiakan nikmat yang Allah berikan kepadanya. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada dua buah nikmat yang banyak manusia rugi karena tidak bisa menggunakannya yaitu; kesehatan dan waktu luang.”</em> (HR. Bukhari [6412] dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu’anhu</em>ma). Hadits ini menunjukkan bahwa kesehatan merupakan nikmat dari Allah, oleh sebab itu kita harus mensyukuri nikmat tersebut.</p>
<p>Allah ta’ala berfirman (yang artinya), <em>“Bersyukurlah kalian kepada-Ku dan janganlah kalian kufur.”</em> (Qs. al-Baqarah: 152). Syukur adalah mengakui dengan hati kita bahwa nikmat tersebut berasal dari Allah, memuji Allah dengan lisan, kemudian menggunakan nikmat tersebut dalam ketaatan, bukan untuk kemaksiatan. Apakah merokok termasuk maksiat, nanti akan kita bicarakan! Yang jelas semua orang -yang masih sehat akalnya- bahkan para dokter dan pemerintah sekalipun mengakui bahwa merokok merugikan kesehatan.</p>
<p><strong>Kedua: Merokok menyia-nyiakan harta</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Allah membenci untuk kalian; menyebarkan berita yang tidak jelas, terlalu banyak bertanya yang tidak perlu, dan menyia-nyiakan harta.”</em> (HR. Muslim [3236] dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em> as-Syamilah). Yang dimaksud menyia-nyiakan harta adalah menggunakan harta untuk keperluan yang tidak dibenarkan oleh syari’at, demikian keterangan an-Nawawi <em>rahimahullah</em> (<em>Syarh Muslim</em> [6/144] as-Syamilah).</p>
<p>Allah ta’ala berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang yang melakukan tabdzir itu adalah saudara-saudara syaitan, sedangkan syaitan adalah makhluk yang senantiasa kufur kepada Rabbnya.”</em> (Qs. al-Israa’ : 27). Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu’anhu</em> mengatakan, “Tabdzir adalah membelanjakan harta bukan dalam perkara yang haq.” Ibnu Abbas juga mengatakan demikian. Qatadah mengatakan, “Tabdzir adalah membelanjakan harta untuk bermaksiat kepada Allah ta’ala, untuk keperluan yang tidak benar atau untuk mendatangkan kerusakan.” (<em>Tafsir al-Qur’an al-’Azhim</em>, 5/53)</p>
<p>Keterangan di atas menunjukkan bahwa orang yang membelanjakan hartanya untuk keperluan yang sia-sia, menimbulkan kerusakan, atau dalam rangka bermaksiat pada hakikatnya sedang menjalin ukhuwah syaithaniyah. Padahal kita semua tahu bahwa syaitan adalah musuh kita, lalu bagaimana mungkin kita menjadikannya sebagai saudara? Allah ta’ala berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya syaitan adalah musuh kalian maka jadikanlah dia sebagai musuh. Sesungguhnya dia hanya mengajak kaum pengikutnya agar mereka menjadi penghuni-penghuni neraka.”</em> (Qs. Fathir: 6)</p>
<p>Belum lagi kalau kita perhatikan di antara sekian banyak kasus kebakaran ternyata sumbernya adalah puntung rokok dari ’saudara syaitan’ yang tidak bertanggung jawab! Sungguh bijak para pengelola POM bensin, pemilik Rumah Sakit, dan takmir masjid yang dengan terus terang mengatakan kepada para pengunjung bahwa merokok itu dilarang, dan tidak ada seorang pegunjung pun yang memprotes mereka! Karena mereka sama-sama sepakat bahwa api rokok adalah sumber kebinasaan!</p>
<p><strong>Ketiga: Bau menjijikkan dan asap yang mengganggu kesehatan</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Seorang muslim yang baik adalah orang yang membuat kaum muslimin yang lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Sedangkan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan larangan Allah.”</em> (HR. Bukhari [10] dari Abdullah bin Amr <em>radhiyallahu’anhuma</em>).</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga dia mencintai bagi saudaranya (atau beliau mengatakan; tetangganya) sebagaimana yang dicintainya bagi dirinya sendiri.”</em> (HR. Bukhari [13] dan Muslim [45] dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu’anhu</em>). Di dalam riwayat Nasa’i dengan tambahan keterangan yaitu, “[berupa] kebaikan.” (HR. Nasa’i [4931] as-Syamilah)</p>
<p>Menjelang wafatnya, Umar bin al-Khaththab <em>radhiyallahu’anhu</em> berkhutbah di hadapan para sahabat, di antara isi ceramahnya, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian biasa memakan dua jenis tanaman yang tidak sedap baunya yaitu bawang merah dan bawang putih. Sungguh dahulu aku melihat apabila Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mendapati bau kedua tanaman itu pada [mulut] salah seorang yang ada di masjid maka beliau menyuruhnya untuk keluar ke Baqi’. Maka barangsiapa di antara kalian yang ingin memakannya hendaklah dia memasaknya terlebih dulu (agar berkurang baunya, pent).” (HR. Muslim [567] dari Ma’dan bin Abi Thalhah).</p>
<p>an-Nawawi <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Sayuran ini -yaitu bawang dan semacamnya- adalah halal berdasarkan ijma’ para ulama yang diakui pendapatnya.” (<em>Syarh Muslim</em> [3/366]). Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang memakan jenis tanaman yang menjijikkan ini maka janganlah dia mendekati kami di masjid.”</em> Setelah mendengar ucapan itu para sahabat mengatakan, <em>“Makanan itu diharamkan, iya diharamkan.”</em> Kemudian sampailah ucapan mereka itu kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka beliau pun bersabda, <em>“Hai umat manusia, sesungguhnya aku tidak berhak mengharamkan apa yang Allah halalkan untukku, hanya saja aku tidak menyukai bau tanaman itu.”</em> (HR. Muslim [565] dari Abu Sa’id).</p>
<p>Nah, lihatlah wahai saudaraku, kalau sesuatu yang halal saja -seperti bawang- dapat memunculkan rasa tidak suka pada diri Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> gara-gara baunya yang tidak sedap, lantas bagaimana lagi dengan sesuatu yang membahayakan -yaitu <a title="kapan mau berhenti merokok" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/kapan-mau-berhenti-merokok.html">rokok</a>- yang menimbulkan bau tak sedap di mulut orang yang menghisapnya dan mengganggu orang dengan asapnya yang membuat orang terbatuk-batuk dan ‘terpaksa’ menyerap racun (baca: nikotin) ke dalam tubuh mereka?</p>
<p><strong>Keempat: Merokok terbukti membahayakan</strong></p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> -yang tidak berbicara menuruti kemauan hawa nafsunya- bersabda, <em>“Tidak boleh mendatangkan bahaya secara tak sengaja maupun disengaja.”</em> (HR. Ibnu Majah [2331] dari Ubadah bin Shamit <em>radhiyallahu’anhu</em>, disahihkan al-Albani dalam <em>as-Shahihah</em> [250])</p>
<p>Syaikh Dr. Muhammad Shidqi mengatakan, “Hadits ini merupakan landasan hukum yang tegas mengenai pengharaman mendatangkan bahaya, sebab penafian di sini menggunakan ungkapan yang mencakup segala objek dan menunjukkan haramnya segala jenis bahaya yang dilarang oleh syari’at. Hal itu disebabkan perbuatan mendatangkan bahaya termasuk dalam kezaliman, kecuali tindakan tertentu yang terdapat dalil yang mengecualikannya seperti hukuman had (potong tangan, dsb) dan dijatuhkannya berbagai bentuk hukuman…” (<em>al-Wajiz fi Idhahi Qawa’id al-Fiqh al-Kulliyah</em>, hal. 252)</p>
<p><strong>Fatwa Ulama</strong></p>
<p>Dengan melihat realita dan bukti-bukti medis yang ada maka Syaikh Muhammad bin Ibrahim <em>rahimahullah</em> dalam fatwanya menegaskan haramnya mengkonsumsi rokok (lihat <em>al-Adillah wa al-Barahin ‘ala Hurmat at-Tadkhin</em>). Demikian juga al-Lajnah ad-Da’imah (Komite tetap urusan fatwa Kerajaan Arab Saudi) menyatakan haramnya hal itu dalam Fatwanya (<em>Fatawa Lajnah</em> [7/283] pertanyaan kedua dari fatwa no 3623, as-Syamilah). Kita tidak menafikan adanya sebagian ulama yang menyatakan kebolehannya [dan anda telah melihat bahwa dalil-dalil yang ada dan bukti medis berseberangan dengan pendapat mereka], meskipun demikian mereka juga mengatakan bahwa meninggalkan rokok itulah yang lebih baik! (lihat <em>Mathalib Uli an-Nuha fi Syarhi Ghayat al-Muntaha</em> [18/212] as-Syamilah). Dan perlu diketahui bahwa mereka menyatakan bolehnya hal itu dengan alasan; [1] hukum asal segala sesuatu adalah halal, dan [2] tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa merokok dapat merusak kesehatan tubuh, <strong>sementara pada jaman sekarang bukti itu telah tampak bagi setiap orang!!</strong> Dan kita pun telah paham berdasarkan dalil yang ada bahwa segala sesuatu yang membahayakan adalah dilarang dalam agama. Bahkan, hal itu merupakan kaidah yang populer di kalangan para ulama.</p>
<p><strong>Berpikirlah!</strong></p>
<p>Saudaraku, sekarang tanyakanlah kepada dirimu sendiri, apakah rokok itu berbahaya bagi kesehatan? Jawabnya sudah sangat mutawatir bukan? Para produsen rokok pun mengakuinya. Merokok dapat merugikan kesehatan, menyebabkan kanker, impotensi, gangguan kehamilan, dan janin. Itulah peringatan pemerintah kita, semoga kita mengindahkan peringatan ini dengan sebaik-baiknya. Kalau bukan karena rasa sayang pemerintah kepada rakyatnya tentu mereka tidak akan mengharuskan pabrik <a title="kapan mau berhenti merokok" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/kapan-mau-berhenti-merokok.html">rokok</a> untuk mencantumkan peringatan ini di dalam iklan-iklan dan bungkus rokok tersebut. Aduhai, alangkah indahnya negeri ini jika rakyatnya mau menaati pemerintahnya dalam hal ketaatan!</p>
<p>Ucapkanlah selamat tinggal untuk rokok, sekarang dan untuk selama-lamanya. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik darinya.”</em> (Disebutkan oleh as-Sakhawi dalam <em>al-Maqashid al-Hasanah</em> [1/214], as-Suyuthi dalam <em>ad-Durrar al-Muntatsirah fi al-Ahadits al-Musytahirah</em> [1/19] as-Syamilah, Syaikh al-Albani mengatakan, “Hadits ini merupakan bagian dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan sanadnya sahih”, <em>Hijab al-Mar’ah wa Libasuha fi ash-Shalah</em>, hal. 47. al-Maktab al-Islami, islamspirit.com)</p>
<p>***</p>
<p>Tulisan ini disusun dengan inspirasi dari :<br />
<em>al-Adillah wa al-Barahin ‘ala Hurmat at-Tadkhin</em> karya Syaikh Ibrahim Muhammad Sarsiq</p>
<p>Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi</p>
<p>Artikel abu0mushlih.wordpress.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/adikamianoki.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/adikamianoki.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/adikamianoki.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/adikamianoki.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/adikamianoki.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/adikamianoki.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/adikamianoki.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/adikamianoki.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/adikamianoki.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/adikamianoki.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/adikamianoki.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/adikamianoki.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/adikamianoki.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/adikamianoki.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=adikamianoki.wordpress.com&amp;blog=10042936&amp;post=35&amp;subd=adikamianoki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adikamianoki.wordpress.com/2009/10/25/berhenti-merokok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57a9a8d1898511362e64cb1c5b3ff441?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">adikamianoki</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
